LAPORAN
KUNJUNGAN
LAPANGAN
TEMPAT
PEMBUANGAN AKHIR (TPA)
AIR DINGIN-LUBUK MINTURUN
OLEH :
SHABRINA YUNITA
SARI
1110942039
ASISTEN:
LIZA
FIDELIA

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
ANDALAS
PADANG
2012
KATA
PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah SWT, kita
memuji-Nya, memohon ampunan dan perlindungan-Nya dari kejahatan hawa nafsu, dan
keburukan amalan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya
tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan-Nya, niscaya
tidak ada yang dapat member petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tidak ada
sembahan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya
bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam
kepada beliau, beserta keluarga, para sahabat, serta para pengikutnya sampai
hari pembalasan.
Hanya atas izin Allah SWT, yang
hingga saat ini penulis masih diberi kesempatan menyelesaikan dan merampungkan
penulisan laporan kunjungan lapangan ini yang berjudul “ Laporan Kunjungan Lapangan
TPA Air Dingin Kota Padang”, yang merupakan salah satu syarat untuk lulus
menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Andalas
Padang.
Dalam penyelesaian laporan
kunjungan lapangan ini, penulis tidak terlepas dari bimbingan dan pengarahan
dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucakan terima kasih kepada :
1.
Orang tua penulis yang selalu memberikan
dorongan dalam berupa do’a.
2.
Bapak Syahrial dan rekan-rekan yang telah menjelaskan
tentang TPA Air Dingin.
3. Uni Liza Fidelia (TL 09), selaku asisten
kelompok sebelas.
4. Serta
teman-teman EXECUTIVE yang telah
mendukung dan memotivasi penulis untuk
melaksanakan dan mnyelesaikan laporan kunjungan lapangan ini.
Penulis menyadari apa yang telah
diperbuat dan diselesaikan hari ini, ternyata belumlah sempurna untuk masa yang
akan datang. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi
penyempurnaan laporan kunjungan lapangan ini dimasa yang akan datang. Semoga Allah
membalas semua kebaikan yang telah diberikan.
Padang, April 2012
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampah
merupakan buangan padat dan setengah padat yang dihasilkan dari aktivitas
manusia dan hewan yang tidak disukai dan tidak berguna. (Tchobanoglous, 1993). Sampah merupakan masalah
yang rumit untuk dipecahkan. Timbulan sampah yang tidak ditangani dengan baik
akan berdampak bagi lingkungan, terutaraa bagi kesehatan manusia. Dalam
kegiatan pengumpulan dan pengangkutan sampah di Kota Padang masih banyak
terdapat kekurangan. Belum disiplinnya petugas becak dalam pengumpulan sampah,
menyebabkan banyaknya sampah berserakan di sekitar lokasi TPS. Kurangnya jumlah
TPS, menyebabkan masyarakat menumpuk sampah di beberapa lokasi sepanjang jalan
rute kendaraan. Hal ini selain mengurangi nilai estetika, juga memperlama waktu
pengangkutan sampah ke TPA. Tingkat pelayanan sampah Kota Padang yang baru
mencapai 38 % dari total timbulan sampah, menunjukkan masih rendahnya kemampuan
armada pengangkutan.
Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya evaluasi terhadap
teknik operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah Kota Padang. Penelitian
ini dilakukan dengan cara obsei-vasi lapangan, dalam teknik operasional
pengumpulan dan pengangkutan sampah. Untuk mengetahui kemampuan dari becak,,
meliputi waktu dan jarak dalam pengumpulan sampah/hari, diambil sampel sebanyak
4 unit becak sampah pada dua kelurahan. Sedangkan untuk mengetahui waktu dan
jumlah trip/hari yang dapat dilakukan oleh truk sampah, diambil sampel sebanyak
4 unit Arm Roll Track dan 4 unit Dump Truck dengan mengikuti rute yang dilalui.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan becak dalam mengumpulkan sampah
per-hari sebesar 2,2 m3. Sistem pengumpulan dari rumah ke rumah (door to door)
oleh truk sampah dapat diganti dengan becak sampah menggunakan pola individual
tidak langsung, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut sampah ke TPA
lebih singkat. Dari hasil perhitungan setelah adanya perbaikan pola tersebut,
diperoleh bahwa setiap truk sampah mampu menambah satu trip lagi setiap hari.
Dengan jumlah armada yang ada, pelayanan dapat ditingkatkan dari 38 % menjadi
50 % dari total sampah Kota Padang. Untuk kelancaran operasional pengangkutan
sampah pada masa mendatang, Pemerintah Kota Padang perlu menyiapkan armada
pengganti untuk setiap kendaraan sampah yang habis masa pemakaiannya.
1.2
Maksud dan Tujuan
Maksud
dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk lulus menjadi
anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Andalas. Tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah :
1.
Mengetahui cara pengelolaan sampah secara langsung;
2.
Membandingkan teknis di lapangan dengan teori yang didapatkan.
1.3 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Berisikan latar belakang, maksud dan tujuan, serta sistematika penulisan
laporan
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Menguraikan referensi dan acuan tertulis lainnya yang berhubungan dengan
karakteristik sampah serat parameter-parameter yang berhubungan dengan kajian
penanganan sampah (pengomposan).
BAB III KONDISI
EKSISTING
Menjelaskan
kondisi lapangan tempat pembuangan akhir.
BAB IV PEMBAHASAN
Membahas
tentang kaitan teori dengan kenyataan yang sebenarnya.
BAB V KESIMPULAN
DAN SARAN
Memberikan kesimpulan dari laporan yang dibuat. Serta memberikan saran
untuk perbaikan kedepannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Umum
Sampah
adalah limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organic dan non organic yang
dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan
lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Sampah umumnya dalam bentuk
sisa makanan (sampah dapur), daun-daunan, ranting pohomn, kertas atau karton,
plastic, kain bekas, kaleng-kaleng, debu sisa penyapuan, dsb. (SNI
19-2454-1991).
Sampah
yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan masalah bagi kehidupan dan kesehatan
lingkungan, terutama kehidupan manusia. Beberapa permasalahan yang berkaitan
dengan keberadaan sampah, diantaranya (Damanhuri, 2004) :
1.
Sampah menimbulkan perasaan tidak estetik, menjijikkan, dan mengganggu
pandangan mata.
2.
Sampah baik yang bersifat organic ataupun non organic akan menjadi sumber
penyakit.
3.
Sampah organic akan membusuk dan menimbulkan bau yang mencemari udara.
4.
Pencemaran air yang terjadi sebagai akibat dari pembuangan sampah tidak pada
tempatnya. Biasannya masyarakat membuang sampah ke badan perairan yang akan
mengakibatkan menurunnya daya dukung lingkungan.
5. Sampah dapat menyebabkan banir karena sampah yang
dibuang sembarangan ke dalam selokan.
Penyingkiran dan pemusnahan sampah adalah bagian yang
penting dalam pengolaha persampahan, karena metode penyingkiran sampah yang
salah akan menimbulkan kerusakan lingkungan sekitarnya. Landfill saat ini
merupakan salah satu cara saat ini yang dimiliki manusia untuk menyingkirkan
limbahnya karena relative murah dan mudah.
Landfill adalah penimbunan sampah pada suatu lubang
tanah, dan ini bukanlah metode yang berdiri sendiri. Karena dapat juga system
campuran, yang disebababkan oleh air mengalir, menembus tempat ini, ketika air
hujan berinfiltrasi ke permukaan landfill, dan ketika air ini mengalir keluar
dari landfill akan membawa mineral dan zat-zat organic dalm bentuk suspense
yang tak dapat dipisahkan (Murtadho, 1987).
Semua
daerah harus segera bersiap-siap menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah
sistem terbuka (open dumping) pada 2013 sesuai amanat
undang-undang persampahan. Tidak ada alternatif lain kecuali meningkatkan
pengelolaan sistemnya.
Pilihan
terbaik adalah membangun TPA sanitary landfill. Namun jika pemerintah daerah tidak mampu membangun TPA sanitary
landfill, sistem controlled landfill bisa menjadi pilihan.
Hanya saja, sistem ini bersifat sementara sampai sistem sanitary
landfill bisa diwujudkan. Pada sistem terbuka (open dumping),
sampah dibuang begitu saja dalam sebuah tempat pembuangan akhir tanpa ada
perlakuan apapun. Tidak ada penutupan tanah. Tak heran bila sistem ini dinilai
sangat mengganggu lingkungan (Murtadho, 1987).
Sistem controlled
landfill merupakan peningkatan dari open dumping. Untuk
mengurangi potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan, sampah ditimbun dengan
lapisan tanah setiap tujuh hari. Dalam operasionalnya, untuk meningkatkan
efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukan TPA, maka dilakukan juga
perataan dan pemadatan sampah.
Di Indonesia,
metode controlled landfill dianjurkan untuk diterapkan di kota
sedang dan kecil. Untuk bisa melaksanakan metode ini, diperlukan penyediaan beberapa
fasilitas, di antaranya (BPPT, 1990) :
- Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan.
- Saluran pengumpul air lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya.
- Pos pengendalian operasional.
- Fasilitas pengendalian gas metan
- Alat berat
Sedangkan sistem sanitary
landfill merupakan sarana pengurugan sampah ke lingkungan yang
disiapkan dan dioperasikan secara sistematis. Ada proses penyebaran dan
pemadatan sampah pada area pengurugan dan penutupan sampah setiap hari.
Penutupan sel sampah dengan tanah penutup juga dilakukan setiap hari
(Damanhuri, 2004).
Metode
ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional. Untuk meminimalkan potensi gangguan timbul,
maka penutupan sampah dilakukan setiap hari. Namun, untuk menerapkannya
diperlukan penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal.
Di Indonesia,
metode sanitary landfilled dianjurkan untuk
diterapkan di kota besar dan metropolitan. Untuk dapat melaksanakan metode ini
diperlukan penyediaan beberapa fasilitas, sama seperti fasilitas dalam
sistem controlled landfill. Tentu dengan kebutuhan jumlah dan
spesifikasi yang berbeda.
2.2 Klasifikasi Sampah
Penggolongan sampah
dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari kondisi yang dianut oleh
kebijakan Negara setempat. Penggolongan ini dapat didasarkan atas beberapa
criteria yaitu didasarkan atas sumber sampah, komponen, bentuk, lokasi, proses
terjadinya, sifat, dan jenisnya.
Penggolongan dan pengolahan sampah ini sangat penting dalam hal
penentuan penanganan dan pengolahan sampah (Murtadho, 1987).
1. Klasifikasi sampah
berdasarkan sumber (Tchhobanoglous, 1993)
Berdasarkan sumbernya sampah dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Sampah domestic atau pemukiman penduduk
Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan, bahan-bahan sisa
daripengolahan makanan atau sampah basah (garbage), dan sampah kering
(rubbish).
b. Sampah komersil
Sampah berasal dari toko, restoran, hotel, dan perkantoran. Jenis sampah
yang dihasilkan berupa sampah makanan, kertas, karton, plastic, dan
kadang-kadang sampah B3.
c. Sampah institusi
Yang termasuk ke dalam sampah institusi antara lain sekolah, rumah
sakit, penjara, dan pusat pemerintahan.
d.
Sampah konstruksi dan pemugaran
Sampah konstruksi merupakan sampah yang
berasal darikonstruksi, remodeling, dan perbaikan bangunan.
e. Sampah pelayanan kota
Terdiri atas sampah sapuan jalan,
sampah taman, pantai, dan sarana rekreasi.
f. Instalasi pengolahan limbah
g. Sampah industry
2.3 Pengomposan
Menurut Mala (2001),
pengomposan atau dekomposisi merupakan proses perombakan atau penguraian
bahan-bahan organic secara biologi dalam temperature termofilik (temperature
yang tinggi). Sedangkan menurut Tchobanoglous (1993), pengomposan merupakan
salah satu cara dalam mengolah bahan padatan organic atau proses degradasi
materi organikmenjadi stabil melalui
reaksi biologis mikroorganisme dalam kondisi yang terkendali.
Kompos diperoleh dari
hasil pelapukan bahan-bahan tanaman atau limbah organic seperti jerami, sekam ,
dan daun-daunan, limbah organic pengolahan pabrik, dan sampah organic yang
terjadi karena kegiatan manusia seperti sampah rumah tangga (Musbandar, 2003
dan Musnamar, 2003).
Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pengomposan adalah (Damanhuri, 2004) :
a. Bahan yang
dikomposkan, apakah mudah terurai atau sulit terurai.
b. Ukuran bahan yang dikomposkan.
c. Kadar air sampahberkisar antara 50-60 persen dengan
nilai optimum adalah 55 persen.
d.
Kandungan karbon dan nitrogen.
Menurut Damanhuri (2004), ujung penanganan sampah dari
system pengelolaan sampah adalah Lokasi Pembuangan Akhir (LPA). Sampai saat ini
kondisi LPA di kota Padang masih menerapkan system open dumping, dimana sampah
ditumpuk di atas tanah dan tidak memperhatikan aspek sanitasi (Loeis, 2005). Sehingga menimbulkan berbagai pencemaran
lingkungan seperti pencemaran air tanah dan air permukaan serta
berkembangbiaknya vector penyakit. Salah satu penanganan masalah sampah adalah
melalui pemanfaatan sampah domestic sebagai bahan baku pembuatan kompos. Adapun
proses dari pengomposan pada TPA Air Dingin adalah :
- Pemilahan sampah;
- pencacahan;
- penumpukan selama 3 hari;
- penyiraman selama 46 hari;
- pengayakkan; dan
- packing.
2.4
Fasilitas di TPA
Sarana dan prasarana di sebuah TPA akan terdiri dari
(Damanhuri, 2004) :
a.
Sarana perlindungan terhadap lingkugan :
-
Sistem linear dasar
dan dinding yang kedap;
-
drainase
sekeliling TPA dan dalam area pengurungan sampah;
-
sarana
penangkap, pengumpulan, dan pengolahan lindi;
-
sumur
pemantau;
-
ventilasi
gasboi;
-
sarana
analisa air;
-
jalur
hijau penyangga;
-
pengendalian
vector.
b.
Peralatan untuk pengoperasian :
-
Alat
berat;
-
stok
tanah penutup;
-
alat
taransportasi local;
-
cadangan
bahan bakar;
-
cadangan
insektisida;
-
peralatan
pengurungan.
c.
Sarana penunjang :
-
Pagar
dan nama site;
-
jembatan
timbang;
-
pos
jaga, kantor, garasi, gudang, workshop
bengkel, tempat cuci mobil;
-
jalan
akses dan operasi
-
fasilitas
pengolahan selain pengurungan : daur ulang, pengomposan, insenerasi, dan
lain-lain;
-
prasarana
penunjang (hidran kebakaran, reservoir penamungan air, dan sumur pemantau);
-
lahan
penunjang kegiatan lain, seperti transit sampah.
BAB III
KONDISI EKSISTING
Pengelolaan
sampah di Kota Padang melibatkan empat dinas, yaitu Dinas Kebersihan dan
Pertamanan, Dinas Pasar, Dinas Pariwisata, dan Dinas Pekerjaan Umum.
Berdasarkan kunjungan lapangan yang telah dilakukan, penulis akan membahas kondisi
eksisting pada Lokasi Pembuangan Akkhir (LPA) di kota Padang. TPA / LPA di kota
Padang adalah TPA Air Dingin. TPA Air Dingin terletak di Kelurahan Air Dingin
dan Kelurahan Baringin Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, dan dikelola oleh
Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Padang. Lokasi TPA Air Dingin ini mempunyai luas 33
Ha dan mulai dioperasikan semenjak tahun 1989 dengan system pengoperasian yang
dilakukan adalah open dumping. Pada
tahun 1993 pengoperasian yang dilakukan berubah yaitu menerapkan system sanitary landfill. Sistem sanitary landfill ini direncanakan akan
beroperasi sampai dengan tahun 2015. Namun pada kenyataannya hingga saat ini
TPA Air Dingin Kota Padang melakukan pengolahan secara open dumping, dengan lahan yang telah dioperasikan sekitar 50 %
dari luas lahan yang ada. Mahalnya biaya operasional adalah salah satu alas an
system sanitary landfill tidak bisa
dilakukan oleh Pemda Kota Padang. Dalam
RUTRK (Rencana Umum Tata Ruang Kota) tahun 1990 – 2003 berdasarkan Perda No. 10
tahun 1993, lokasi TPA Air Dingin telah dicantumkan dan sesuai dengan
peruntukkannya. Lokasi TPA ini sebagian besar dikelilingi oleh deretan Bukt
Barisan dan berada pada ketinggian
dari permukaan laut.
Adapun batas-batas lokasi TPA Air Dingin
Kota Padang :
-
Sebelah
Utara berbatasan dengan Sungai Balik, lading penduduk, dan Bukit Barisan.
-
Sebelah Selatan
berbatasan dengan kebun/lading/sawah, jalan ke lokasi TPA, dan pemukiman
penduduk.
-
Sebelah Barat
berbatasan dengan kebun campuran dan beberapa pemukiman penduduk.
-
Sebelah
Timur berbatasan dengan lading, pemukiman penduduk, dan Bukit Barisan.
Jarak
lokasi TPA Air Dingin dengan pusat Kota Padang adalah
km. Di sebelah
selatan
km dari lokasi TPA
terdapat Sungai Batang Air Dingin dan
km sebelah barat dri
lokasi TPA terdapat sungai Batang Kandis sebagai badan air penerima aliran
Sungai Balik yang berjarak hanya 30 m dari timbunan sampah. Daerah pemukiman
(Kelurahan Air Dingin) berada
km arah lokasi TPA.
Pada radius ini terdapat SD, SMP, dan Puskesmas Perawatan Air Dingin yang
berada di kiri dan kanan ruas jalan utama sebelum memasuki lahan tempat lokasi
TPA berada.
Sampah yang berada pada lokasi ini
merupakan sampah padat yang berasal dari TPS, transfer dipo, pasar-pasar, dan
industry yang tersebar di Padang dan sekitarnya. Setiap hari berdasarkan data
dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan, TPA Air Dingin menerima 331 m3
sampah yang dibawa oleh truk maupun container yang jumlahnya dicatat oleh
petugas setiap harinya. Sebagai sarana pelengkap, di TPA Air Dingin terdapat
instalasi pengolahan air lindi untuk mencegah terjadinya encemaran air. Instalasi
tersebut terdiri atas 5 kolam penampungan. Semua effluent dari proses pengolahan system kolam ini akan dibuang ke
Sungai Balik yang berada tak jauh dari lokasi TPA. Sungai ini bermuara pada
Sungai Batang Kandis yang merupakan aliran sungai yang berada di sebelah
selatan TPA Air Dingin.
Selain
pengolahan lindi, TPA Air Dingin juga mempunyai sarana pengomposan. Kegiatan ini
sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang bersama masyarakat di sekitar
lokasi TPA Air Dingin sejak tahun 1990. Lokasi kegiatan pengomposan memiliki
luas masing-masing areal sekitar 20 x 10 m. Namun dsalam perjalanannya proses
ini tidak berkembang dengan baik, karena kompos yang dihasilkan tidak banyak
peminatnya. Kompos yang dihasilkan hanya dimanfaatkan oleh Pemda untuk
taman-taman kota. Pada saat ini pelaksana harian berjumlah 3 orang pekerja yang
bertugas melakukan pemisahan sampah, pengadukan sampah agar homogen dan
pembuatan kompos. Proses dari
pengomposan pada TPA Air Dingin adalah :
7. Pemilahan sampah;
8. pencacahan;

Gambar 3.1 Proses pencacahan
9. penumpukan selama 3 hari;
10. penyiraman selama 46 hari;

Gambar 3.2 Proses penyiraman
11. pengayakkan; dan
12.
packing.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Umum
Jarak
TPA Air Dingin adalah sekitar 18 km dari pusat kota Padang. Dari sini, jarak
sudah memenuhi syarat, yaitu jauh dari daerah pemukiman. Di TPA Air Dingin juga
terdapat banyak sapi yang berkeliaran. Ternak itu memakan sampah-sampah yang
ada di TPA Air Dingin. Kondisi sapi-sapi itu memang gemuk-gemuk, tapi tidak
sehat karena makanan sapi-sapi tersebut adalah sampah-sampah yang ada di TPA
Air Dingin.
4.2 Sampah
Sampah
yang dibawa TPA Air Dingin terdiri dari sampah organic dan anorganik. Pada TPA
ini sampah anorganik yang telah ada tidak diolah lagi dan dibiarkan begitu
saja, sehingga menumpuk pada lahan sanitary landfill yang kecil.
TPA
Air Dingin juga tidak melakukan pemilahan antara sampah organik dan anorganik,
sehingga keduanya bercampur menjadi satu. Seharusnya TPA Air Dingin memilah
sampah itu, misalnya antara plastic dan botol bekas, kedua benda ini jika
diolah dapat menghasilkan biji plastic yang tentunya akan meningkatkan
perekonomian.
4.3 Pengomposan
Kegiatan
pengomposan yang ada di TPA Air Dingin dapat dikatakan baik. Alat-alat untuk
pengomposan juga lengkap, karena adanya alat pencacah yang cukup baik di TPA
Air Dingin. TPA Air Dingin tidak melakukan pengolahan kompos secara anaerob.
Proses pengomposan di TPA ini dilakukan secara aerob dan prosesnya telah
memenuhi standar. Prosesnya dimulai dari pemilahan sampah, pencacahan,
penumpukan selama 3 hari, penyiraman selama 46 hari, pengayakan, dan pakcking.
4.4 Pengolahan Sampah Anorganik
Pada TPA Air Dingin hanya ada
pengolahan sampah organic. Sedangkan yang anorganik dibiarkan begitu saja tanpa
pengolahan. Seharusnya sampah anorganik tersebut bias diolah lagi, sehingga
dapat berharga ekonomis bagi warga sekitar. Sampah anorganik tidak dapat
terdegradasi secara alami. Dengan kreativitas, sampah ini bisa didaur ulang
untuk beragam kebutuhan. Ada beberapa sampah yang bisa dimanfaatkan:
· Sampah
kertas
Sampah kertas bisa dikumpulkan menjadi satu bagian yang
dipisahkan dari sampah lainnya. Entah selanjutnya dibuang ke tempat sampah atau
dijual ke tukang loak, minimal kita sudah memudahkan langkah para pengelola
sampah untuk melakukan pengolahan tingkat lanjut. Kumpulan sampah kertas bisa dibuat
berbagai macam jenis kerajinan tangan, seperti topeng, patung, dan kertas daur
ulang. Nilai jual sampah kertas daur ulang jauh lebih tinggi dari sekadar
sampah kertas biasa. Kertas daur ulang bisa dijual ke pengrajin sebagai bahan
pembuat kerajinan tangan, atau Anda sendiri yang membuat karya seni yang
menghasilkan.
· Sampah
kaleng
Banyak sekali kemasan kaleng yang digunakan untuk barang-barang keperluan
sehari-hari. Sementara sumber daya tambang tidak dapat diperbaharui, jika bisa
pun butuh waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk membentuknya. Suatu saat
bahan tambang tersebut akan habis dieksplorasi. Oleh karena itu, akan bijak
jika kita ikut andil dalam gerakan menyukseskan daur ulang. Kaleng baja 100%
dapat didaur ulang karena siklus hidupnya tidak akan pernah berakhir.
Membuat baja dari kaleng bekas hanya memerlukan 75% energi yang digunakan untuk
membuat baja dari bijih besi. Itu berarti, setiap kita mendaur ulang 1 ton
baja, akan dihemat 1.131 kg bijih besi, 633 kg batu bara, dan 54 kg kapur.
Perlakuan
kaleng bekas tergantung jenis kegunaan wadahnya. Kaleng bekas wadah makanan
memiliki tutup yang cenderung tajam, sebaiknya bagian itu dimasukkan ke arah
dalam, lalu digepengkan untuk menghemat ruang di tempat sampah. Kaleng cat
harus dibersihkan dari sisa-sisa catnya dengan kertas koran dan biarkan kering,
kemudian digepengkan. Kertas kaleng minyak goreng juga begitu. Kaleng yang
mengandung aerosol, seperti parfum dan cat semprot harus ditangani hati-hati,
jangan ditusuk atau digepengkan. Untuk kaleng drum bisa dimanfaatkan sebagai
tempat sampah atau pot.
· Sampah
botol
Botol beling memiliki nilai tinggi,
apalagi masih utuh. Jika sudah tidak utuh akan didaur ulang lagi bersama dengan
berbagai jenis kaca lainnya untuk dicetak menjadi botol baru. Harga sampah
botol bekas minuman lebih rendah karena bentuknya khusus sehingga pembelinya
terbatas perusahaan minuman itu. Botol kecap lebih mahal karena banyak produk yang bisa
dikemas dengan botol itu. Usaha botol bekas juga memberi peluang kerja bagi
ibu-ibu sebagai pencuci botol.
· Sampah
plastik
Saat ini sudah banyak kerajinan yang
dibuat dengan bahan dasar sampah plastik seperti tas, dompet, cover
meja, dan tempat tisu.
·
Sampah B3
(limbah berbahaya dan beracun)
Limbah B3
ternyata bisa menghasilkan uang. Cairan cuci cetak film (fixer), bisa
menghasilkan perak murni. Memang diperlukan pengetahuan proses kimia yang
memadai karena melibatkan bahan-bahan kimia yang berbahaya dan beracun.
· Sampah
kain
Sampah kain bisa digunakan untuk
cuci motor atau sebagai bahan baku kerajinan. Pakaian yang sudah tidak
terpakai, tapi masih layak pakai bisa disumbangkan kepada yang membutuhkan,
atau dijual dengan harga miring. Sisa kain atau kain perca juga dimanfaatkan
untuk banyak aplikasi bisa selimut, tutup dispenser, magic jar, dan lainnya.
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
TPA Air Dingin menampung sampah yang berasal dari kota
Padang. TPA Air Dingin sejauh ini bisa menampung sampah hingga sampai 25 tahun
lagi. Biasanya volume sampah organik naik pada musim-musim buah tertentu dan pada
bulan ramadhan.
Sampah-sampah yang telah sampai di TPA kemudian dipisah
sesuai dengan jenisnya, anorganik dan organik. Sampah organik diproses menjadi
kompos, sedangkan anorganik diproses di sanitary landfill.
Pengomposan sampah-sampah anorganik di TPA ini berjalan
cukup baik. Mulai dari proses pemilahan sampah, pencacahan, penumpukan selama 3
hari, penyiraman selama 46 hari, pengayakkan dan pengemasan. Kompos yang
dihasilkan digunakan untuk pupuk taman-taman kota, dan berbagai tempat lainnya.
Dan
juga diberikan kepada warga sekitar yang membutuhkan.
5.2 Saran
- Pemisahan sampah organik dan anorganik harus lebih dilakukan lagi. Bukan hanya pada TPS atau bak-bak sampah saja, namun pada container dan truk-truk pengangkut sampah juga ada pemisahan;
- alat-alat untuk pengomposan dan sanitary landfill harus dilengkapi agar proses ini dapat dimaksimalkan;
- kawasan sanitary landfill juga seharusnya diberi pagar, agar ternak-ternak tersebut tidak masuk dalam area landfill.
Damanhuri,
E. 2004.Diktat Pengelolaan Sampah.Penerbit
TL ITB.Bandung.
Fauzi, Asnil.
2005. Study Characteristic And Early
Study Elegibility Recycle, Composting, And Insineration Of Residential Solid
Waste Padang City.Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas
Padang.
Pangerani,
Meuthia. 2006. Satuan Timbulan Dan
Komposisi Sampah Komersil Kota Padang Pada Musim Kemarau Tahun 2005. Tugas Akhir
Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas Padang.
Rahmadhani,
Fitra. 2007. Analisis Sistem Transportasi
Sampah Kota Padang. Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas
Padang.
Tchnobanoglous, T. 1993. Integrated Solid Waste Management. McGraw
Hill Inc. New York.