Translate

Rabu, 11 September 2013

TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) AIR DINGIN-LUBUK MINTURUN


LAPORAN
KUNJUNGAN LAPANGAN
TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA)
AIR DINGIN-LUBUK MINTURUN




OLEH :
SHABRINA YUNITA SARI
1110942039




ASISTEN:
LIZA FIDELIA




UNAND~C









JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2012




KATA PENGANTAR
            Segala puji hanya bagi Allah SWT, kita memuji-Nya, memohon ampunan dan perlindungan-Nya dari kejahatan hawa nafsu, dan keburukan amalan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak ada yang dapat menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan-Nya, niscaya tidak ada yang dapat member petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusan-Nya.  Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, beserta keluarga, para sahabat, serta para pengikutnya sampai hari pembalasan.
                Hanya atas izin Allah SWT, yang hingga saat ini penulis masih diberi kesempatan menyelesaikan dan merampungkan penulisan laporan kunjungan lapangan ini yang berjudul Laporan Kunjungan Lapangan TPA Air Dingin Kota Padang”, yang merupakan salah satu syarat untuk lulus menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Andalas Padang.
                Dalam penyelesaian laporan kunjungan lapangan ini, penulis tidak terlepas dari bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucakan terima kasih kepada :
1.   Orang tua penulis yang selalu memberikan dorongan dalam berupa do’a.
2.   Bapak Syahrial dan rekan-rekan yang telah menjelaskan tentang TPA Air Dingin.
3.  Uni Liza Fidelia (TL 09), selaku asisten kelompok sebelas.
4. Serta teman-teman EXECUTIVE yang telah mendukung dan memotivasi  penulis untuk melaksanakan dan mnyelesaikan laporan kunjungan lapangan ini.
                Penulis menyadari apa yang telah diperbuat dan diselesaikan hari ini, ternyata belumlah sempurna untuk masa yang akan datang. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan laporan kunjungan lapangan ini dimasa yang akan datang. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan.
               



Padang,        April 2012

  Penulis



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Sampah merupakan buangan padat dan setengah padat yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan hewan yang tidak disukai dan tidak berguna. (Tchobanoglous, 1993). Sampah merupakan masalah yang rumit untuk dipecahkan. Timbulan sampah yang tidak ditangani dengan baik akan berdampak bagi lingkungan, terutaraa bagi kesehatan manusia. Dalam kegiatan pengumpulan dan pengangkutan sampah di Kota Padang masih banyak terdapat kekurangan. Belum disiplinnya petugas becak dalam pengumpulan sampah, menyebabkan banyaknya sampah berserakan di sekitar lokasi TPS. Kurangnya jumlah TPS, menyebabkan masyarakat menumpuk sampah di beberapa lokasi sepanjang jalan rute kendaraan. Hal ini selain mengurangi nilai estetika, juga memperlama waktu pengangkutan sampah ke TPA. Tingkat pelayanan sampah Kota Padang yang baru mencapai 38 % dari total timbulan sampah, menunjukkan masih rendahnya kemampuan armada pengangkutan.
Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya evaluasi terhadap teknik operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah Kota Padang. Penelitian ini dilakukan dengan cara obsei-vasi lapangan, dalam teknik operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah. Untuk mengetahui kemampuan dari becak,, meliputi waktu dan jarak dalam pengumpulan sampah/hari, diambil sampel sebanyak 4 unit becak sampah pada dua kelurahan. Sedangkan untuk mengetahui waktu dan jumlah trip/hari yang dapat dilakukan oleh truk sampah, diambil sampel sebanyak 4 unit Arm Roll Track dan 4 unit Dump Truck dengan mengikuti rute yang dilalui. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan becak dalam mengumpulkan sampah per-hari sebesar 2,2 m3. Sistem pengumpulan dari rumah ke rumah (door to door) oleh truk sampah dapat diganti dengan becak sampah menggunakan pola individual tidak langsung, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut sampah ke TPA lebih singkat. Dari hasil perhitungan setelah adanya perbaikan pola tersebut, diperoleh bahwa setiap truk sampah mampu menambah satu trip lagi setiap hari. Dengan jumlah armada yang ada, pelayanan dapat ditingkatkan dari 38 % menjadi 50 % dari total sampah Kota Padang. Untuk kelancaran operasional pengangkutan sampah pada masa mendatang, Pemerintah Kota Padang perlu menyiapkan armada pengganti untuk setiap kendaraan sampah yang habis masa pemakaiannya.
1.2 Maksud dan Tujuan   
Maksud dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk lulus menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) Universitas Andalas. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui cara pengelolaan sampah secara langsung;
2. Membandingkan teknis di lapangan dengan teori yang didapatkan.
1.3 Sistematika Penulisan
BAB I                           PENDAHULUAN
Berisikan latar belakang, maksud dan tujuan, serta sistematika penulisan laporan

BAB II                          TINJAUAN PUSTAKA
Menguraikan referensi dan acuan tertulis lainnya yang berhubungan dengan karakteristik sampah serat parameter-parameter yang berhubungan dengan kajian penanganan sampah (pengomposan).

BAB III                        KONDISI EKSISTING
                                        Menjelaskan kondisi lapangan tempat pembuangan akhir.

BAB IV                         PEMBAHASAN
                                        Membahas tentang kaitan teori dengan kenyataan yang sebenarnya.

BAB V                           KESIMPULAN DAN SARAN
Memberikan kesimpulan dari laporan yang dibuat. Serta memberikan saran untuk perbaikan kedepannya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Umum
Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organic dan non organic yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. Sampah umumnya dalam bentuk sisa makanan (sampah dapur), daun-daunan, ranting pohomn, kertas atau karton, plastic, kain bekas, kaleng-kaleng, debu sisa penyapuan, dsb. (SNI 19-2454-1991).
Sampah yang dibuang ke lingkungan akan menimbulkan masalah bagi kehidupan dan kesehatan lingkungan, terutama kehidupan manusia. Beberapa permasalahan yang berkaitan dengan keberadaan sampah, diantaranya (Damanhuri, 2004) :
1. Sampah menimbulkan perasaan tidak estetik, menjijikkan, dan mengganggu pandangan mata.
2. Sampah baik yang bersifat organic ataupun non organic akan menjadi sumber penyakit.
3. Sampah organic akan membusuk dan menimbulkan bau yang mencemari udara.
4. Pencemaran air yang terjadi sebagai akibat dari pembuangan sampah tidak pada tempatnya. Biasannya masyarakat membuang sampah ke badan perairan yang akan mengakibatkan menurunnya daya dukung lingkungan.
5. Sampah dapat menyebabkan banir karena sampah yang dibuang sembarangan ke dalam selokan.
Penyingkiran dan pemusnahan sampah adalah bagian yang penting dalam pengolaha persampahan, karena metode penyingkiran sampah yang salah akan menimbulkan kerusakan lingkungan sekitarnya. Landfill saat ini merupakan salah satu cara saat ini yang dimiliki manusia untuk menyingkirkan limbahnya karena relative murah dan mudah.
Landfill adalah penimbunan sampah pada suatu lubang tanah, dan ini bukanlah metode yang berdiri sendiri. Karena dapat juga system campuran, yang disebababkan oleh air mengalir, menembus tempat ini, ketika air hujan berinfiltrasi ke permukaan landfill, dan ketika air ini mengalir keluar dari landfill akan membawa mineral dan zat-zat organic dalm bentuk suspense yang tak dapat dipisahkan (Murtadho, 1987).
Semua daerah harus segera bersiap-siap menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah sistem terbuka (open dumping) pada 2013 sesuai amanat undang-undang persampahan. Tidak ada alternatif lain kecuali meningkatkan pengelolaan sistemnya.
Pilihan terbaik adalah membangun TPA sanitary landfill. Namun jika pemerintah daerah tidak mampu membangun TPA sanitary landfill, sistem controlled landfill bisa menjadi pilihan. Hanya saja, sistem ini bersifat sementara sampai sistem sanitary landfill bisa diwujudkan. Pada sistem terbuka (open dumping), sampah dibuang begitu saja dalam sebuah tempat pembuangan akhir tanpa ada perlakuan apapun. Tidak ada penutupan tanah. Tak heran bila sistem ini dinilai sangat mengganggu lingkungan (Murtadho, 1987).
Sistem controlled landfill merupakan peningkatan dari open dumping. Untuk  mengurangi potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan, sampah ditimbun dengan lapisan tanah setiap tujuh hari. Dalam operasionalnya, untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukan TPA, maka dilakukan juga perataan dan pemadatan sampah.
Di Indonesia, metode controlled landfill dianjurkan untuk diterapkan di kota sedang dan kecil. Untuk bisa melaksanakan metode ini, diperlukan penyediaan beberapa fasilitas, di antaranya (BPPT, 1990) :
  • Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan.
  • Saluran pengumpul air lindi (leachate) dan instalasi pengolahannya.
  • Pos pengendalian operasional.
  • Fasilitas pengendalian gas metan
  • Alat berat
Sedangkan sistem sanitary landfill merupakan sarana pengurugan sampah ke lingkungan yang disiapkan dan dioperasikan secara sistematis. Ada proses penyebaran dan pemadatan sampah pada area pengurugan dan penutupan sampah setiap hari. Penutupan sel sampah dengan tanah penutup juga dilakukan setiap hari (Damanhuri, 2004).
Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional. Untuk meminimalkan potensi gangguan timbul, maka penutupan sampah dilakukan setiap hari. Namun, untuk menerapkannya diperlukan penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal.
Di Indonesia, metode sanitary landfilled dianjurkan untuk diterapkan di kota besar dan metropolitan. Untuk dapat melaksanakan metode ini diperlukan penyediaan beberapa fasilitas, sama seperti fasilitas dalam sistem controlled landfill. Tentu dengan kebutuhan jumlah dan spesifikasi yang berbeda. 
2.2 Klasifikasi Sampah
Penggolongan sampah dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari kondisi yang dianut oleh kebijakan Negara setempat. Penggolongan ini dapat didasarkan atas beberapa criteria yaitu didasarkan atas sumber sampah, komponen, bentuk, lokasi, proses terjadinya, sifat, dan jenisnya.  Penggolongan dan pengolahan sampah ini sangat penting dalam hal penentuan penanganan dan pengolahan sampah (Murtadho, 1987).
1. Klasifikasi sampah berdasarkan sumber (Tchhobanoglous, 1993)
    Berdasarkan sumbernya sampah dapat dikelompokkan menjadi:
    a. Sampah domestic atau pemukiman penduduk
        Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan, bahan-bahan sisa daripengolahan makanan atau sampah basah (garbage), dan sampah kering (rubbish).
    b. Sampah komersil
     Sampah berasal dari toko, restoran, hotel, dan perkantoran. Jenis sampah yang dihasilkan berupa sampah makanan, kertas, karton, plastic, dan kadang-kadang sampah B3.
    c. Sampah institusi
        Yang termasuk ke dalam sampah institusi antara lain sekolah, rumah sakit, penjara, dan pusat pemerintahan.
    d. Sampah konstruksi dan pemugaran
        Sampah konstruksi merupakan sampah yang berasal darikonstruksi, remodeling, dan perbaikan bangunan.
   e.  Sampah pelayanan kota
        Terdiri atas sampah sapuan jalan, sampah taman, pantai, dan sarana rekreasi.
      f. Instalasi pengolahan limbah
      g. Sampah industry
2.3 Pengomposan
Menurut Mala (2001), pengomposan atau dekomposisi merupakan proses perombakan atau penguraian bahan-bahan organic secara biologi dalam temperature termofilik (temperature yang tinggi). Sedangkan menurut Tchobanoglous (1993), pengomposan merupakan salah satu cara dalam mengolah bahan padatan organic atau proses degradasi materi organikmenjadi stabil  melalui reaksi biologis mikroorganisme dalam kondisi yang terkendali.
Kompos diperoleh dari hasil pelapukan bahan-bahan tanaman atau limbah organic seperti jerami, sekam , dan daun-daunan, limbah organic pengolahan pabrik, dan sampah organic yang terjadi karena kegiatan manusia seperti sampah rumah tangga (Musbandar, 2003 dan Musnamar, 2003).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengomposan adalah (Damanhuri, 2004) :
a. Bahan yang dikomposkan, apakah mudah terurai atau sulit terurai.
b. Ukuran bahan yang dikomposkan.
c. Kadar air sampahberkisar antara 50-60 persen dengan nilai optimum adalah 55 persen.
d. Kandungan karbon dan nitrogen.
Menurut Damanhuri (2004), ujung penanganan sampah dari system pengelolaan sampah adalah Lokasi Pembuangan Akhir (LPA). Sampai saat ini kondisi LPA di kota Padang masih menerapkan system open dumping, dimana sampah ditumpuk di atas tanah dan tidak memperhatikan aspek sanitasi (Loeis, 2005). Sehingga menimbulkan berbagai pencemaran lingkungan seperti pencemaran air tanah dan air permukaan serta berkembangbiaknya vector penyakit. Salah satu penanganan masalah sampah adalah melalui pemanfaatan sampah domestic sebagai bahan baku pembuatan kompos. Adapun proses dari pengomposan pada TPA Air Dingin adalah :
  1. Pemilahan sampah;
  2. pencacahan;
  3. penumpukan selama 3 hari;
  4. penyiraman selama 46 hari;
  5. pengayakkan; dan
  6. packing.
2.4 Fasilitas di TPA
Sarana dan prasarana di sebuah TPA akan terdiri dari (Damanhuri, 2004) :
a. Sarana perlindungan terhadap lingkugan :
-                                     Sistem linear dasar dan dinding yang kedap;
-                                     drainase sekeliling TPA dan dalam area pengurungan sampah;
-                                     sarana penangkap, pengumpulan, dan pengolahan lindi;
-                                     sumur pemantau;
-                                     ventilasi gasboi;
-                                     sarana analisa air;
-                                     jalur hijau penyangga;
-                                     pengendalian vector.
b. Peralatan untuk pengoperasian :
-          Alat berat;
-          stok tanah penutup;
-          alat taransportasi local;
-          cadangan bahan bakar;
-          cadangan insektisida;
-          peralatan pengurungan.
c. Sarana penunjang :
-          Pagar dan nama site;
-          jembatan timbang;
-          pos jaga, kantor, garasi, gudang, workshop bengkel, tempat cuci mobil;
-          jalan akses dan operasi
-          fasilitas pengolahan selain pengurungan : daur ulang, pengomposan, insenerasi, dan lain-lain;
-          prasarana penunjang (hidran kebakaran, reservoir penamungan air, dan sumur pemantau);
-          lahan penunjang kegiatan lain, seperti transit sampah.



BAB III
KONDISI EKSISTING
Pengelolaan sampah di Kota Padang melibatkan empat dinas, yaitu Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pasar, Dinas Pariwisata, dan Dinas Pekerjaan Umum. Berdasarkan kunjungan lapangan yang telah dilakukan, penulis akan membahas kondisi eksisting pada Lokasi Pembuangan Akkhir (LPA) di kota Padang. TPA / LPA di kota Padang adalah TPA Air Dingin. TPA Air Dingin terletak di Kelurahan Air Dingin dan Kelurahan Baringin Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, dan dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Padang.  Lokasi TPA Air Dingin ini mempunyai luas 33 Ha dan mulai dioperasikan semenjak tahun 1989 dengan system pengoperasian yang dilakukan adalah open dumping. Pada tahun 1993 pengoperasian yang dilakukan berubah yaitu menerapkan system sanitary landfill. Sistem sanitary landfill ini direncanakan akan beroperasi sampai dengan tahun 2015. Namun pada kenyataannya hingga saat ini TPA Air Dingin Kota Padang melakukan pengolahan secara open dumping, dengan lahan yang telah dioperasikan sekitar 50 % dari luas lahan yang ada. Mahalnya biaya operasional adalah salah satu alas an system sanitary landfill tidak bisa dilakukan oleh  Pemda Kota Padang. Dalam RUTRK (Rencana Umum Tata Ruang Kota) tahun 1990 – 2003 berdasarkan Perda No. 10 tahun 1993, lokasi TPA Air Dingin telah dicantumkan dan sesuai dengan peruntukkannya. Lokasi TPA ini sebagian besar dikelilingi oleh deretan Bukt Barisan dan berada pada ketinggian  dari permukaan laut.
Adapun batas-batas lokasi TPA Air Dingin Kota Padang :
-    Sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Balik, lading penduduk, dan Bukit Barisan.
-    Sebelah Selatan berbatasan dengan kebun/lading/sawah, jalan ke lokasi TPA, dan pemukiman penduduk.
-    Sebelah Barat berbatasan dengan kebun campuran dan beberapa pemukiman penduduk.
-    Sebelah Timur berbatasan dengan lading, pemukiman penduduk, dan Bukit Barisan.
Jarak lokasi TPA Air Dingin dengan pusat Kota Padang adalah  km. Di sebelah selatan  km dari lokasi TPA terdapat Sungai Batang Air Dingin dan  km sebelah barat dri lokasi TPA terdapat sungai Batang Kandis sebagai badan air penerima aliran Sungai Balik yang berjarak hanya 30 m dari timbunan sampah. Daerah pemukiman (Kelurahan Air Dingin) berada  km arah lokasi TPA. Pada radius ini terdapat SD, SMP, dan Puskesmas Perawatan Air Dingin yang berada di kiri dan kanan ruas jalan utama sebelum memasuki lahan tempat lokasi TPA berada.
Sampah yang berada pada lokasi ini merupakan sampah padat yang berasal dari TPS, transfer dipo, pasar-pasar, dan industry yang tersebar di Padang dan sekitarnya. Setiap hari berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan, TPA Air Dingin menerima 331 m3 sampah yang dibawa oleh truk maupun container yang jumlahnya dicatat oleh petugas setiap harinya. Sebagai sarana pelengkap, di TPA Air Dingin terdapat instalasi pengolahan air lindi untuk mencegah terjadinya encemaran air. Instalasi tersebut terdiri atas 5 kolam penampungan. Semua effluent dari proses pengolahan system kolam ini akan dibuang ke Sungai Balik yang berada tak jauh dari lokasi TPA. Sungai ini bermuara pada Sungai Batang Kandis yang merupakan aliran sungai yang berada di sebelah selatan TPA Air Dingin.
Selain pengolahan lindi, TPA Air Dingin juga mempunyai sarana pengomposan. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang bersama masyarakat di sekitar lokasi TPA Air Dingin sejak tahun 1990. Lokasi kegiatan pengomposan memiliki luas masing-masing areal sekitar 20 x 10 m. Namun dsalam perjalanannya proses ini tidak berkembang dengan baik, karena kompos yang dihasilkan tidak banyak peminatnya. Kompos yang dihasilkan hanya dimanfaatkan oleh Pemda untuk taman-taman kota. Pada saat ini pelaksana harian berjumlah 3 orang pekerja yang bertugas melakukan pemisahan sampah, pengadukan sampah agar homogen dan pembuatan kompos. Proses dari pengomposan pada TPA Air Dingin adalah :

7.       Pemilahan sampah;
8.       pencacahan;















                                                               





                                                                  Gambar 3.1 Proses pencacahan

9.       penumpukan selama 3 hari;
10.    penyiraman selama 46 hari;

Gambar 3.2 Proses penyiraman

11.    pengayakkan; dan
12.    packing.


BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Umum
Jarak TPA Air Dingin adalah sekitar 18 km dari pusat kota Padang. Dari sini, jarak sudah memenuhi syarat, yaitu jauh dari daerah pemukiman. Di TPA Air Dingin juga terdapat banyak sapi yang berkeliaran. Ternak itu memakan sampah-sampah yang ada di TPA Air Dingin. Kondisi sapi-sapi itu memang gemuk-gemuk, tapi tidak sehat karena makanan sapi-sapi tersebut adalah sampah-sampah yang ada di TPA Air Dingin.
4.2 Sampah
Sampah yang dibawa TPA Air Dingin terdiri dari sampah organic dan anorganik. Pada TPA ini sampah anorganik yang telah ada tidak diolah lagi dan dibiarkan begitu saja, sehingga menumpuk pada lahan sanitary landfill yang kecil.
TPA Air Dingin juga tidak melakukan pemilahan antara sampah organik dan anorganik, sehingga keduanya bercampur menjadi satu. Seharusnya TPA Air Dingin memilah sampah itu, misalnya antara plastic dan botol bekas, kedua benda ini jika diolah dapat menghasilkan biji plastic yang tentunya akan meningkatkan perekonomian.
4.3 Pengomposan
Kegiatan pengomposan yang ada di TPA Air Dingin dapat dikatakan baik. Alat-alat untuk pengomposan juga lengkap, karena adanya alat pencacah yang cukup baik di TPA Air Dingin. TPA Air Dingin tidak melakukan pengolahan kompos secara anaerob. Proses pengomposan di TPA ini dilakukan secara aerob dan prosesnya telah memenuhi standar. Prosesnya dimulai dari pemilahan sampah, pencacahan, penumpukan selama 3 hari, penyiraman selama 46 hari, pengayakan, dan pakcking.
4.4 Pengolahan Sampah Anorganik
Pada TPA Air Dingin hanya ada pengolahan sampah organic. Sedangkan yang anorganik dibiarkan begitu saja tanpa pengolahan. Seharusnya sampah anorganik tersebut bias diolah lagi, sehingga dapat berharga ekonomis bagi warga sekitar. Sampah anorganik tidak dapat terdegradasi secara alami. Dengan kreativitas, sampah ini bisa didaur ulang untuk beragam kebutuhan. Ada beberapa sampah yang bisa dimanfaatkan:
·       Sampah kertas
Sampah kertas bisa dikumpulkan menjadi satu bagian yang dipisahkan dari sampah lainnya. Entah selanjutnya dibuang ke tempat sampah atau dijual ke tukang loak, minimal kita sudah memudahkan langkah para pengelola sampah untuk melakukan pengolahan tingkat lanjut. Kumpulan sampah kertas bisa dibuat berbagai macam jenis kerajinan tangan, seperti topeng, patung, dan kertas daur ulang. Nilai jual sampah kertas daur ulang jauh lebih tinggi dari sekadar sampah kertas biasa. Kertas daur ulang bisa dijual ke pengrajin sebagai bahan pembuat kerajinan tangan, atau Anda sendiri yang membuat karya seni yang menghasilkan.
·       Sampah kaleng
Banyak sekali kemasan kaleng yang digunakan untuk barang-barang keperluan sehari-hari. Sementara sumber daya tambang tidak dapat diperbaharui, jika bisa pun butuh waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk membentuknya. Suatu saat bahan tambang tersebut akan habis dieksplorasi. Oleh karena itu, akan bijak jika kita ikut andil dalam gerakan menyukseskan daur ulang. Kaleng baja 100% dapat didaur ulang karena siklus hidupnya tidak akan pernah berakhir.
Membuat baja dari kaleng bekas hanya memerlukan 75% energi yang digunakan untuk membuat baja dari bijih besi. Itu berarti, setiap kita mendaur ulang 1 ton baja, akan dihemat 1.131 kg bijih besi, 633 kg batu bara, dan 54 kg kapur.
Perlakuan kaleng bekas tergantung jenis kegunaan wadahnya. Kaleng bekas wadah makanan memiliki tutup yang cenderung tajam, sebaiknya bagian itu dimasukkan ke arah dalam, lalu digepengkan untuk menghemat ruang di tempat sampah. Kaleng cat harus dibersihkan dari sisa-sisa catnya dengan kertas koran dan biarkan kering, kemudian digepengkan. Kertas kaleng minyak goreng juga begitu. Kaleng yang mengandung aerosol, seperti parfum dan cat semprot harus ditangani hati-hati, jangan ditusuk atau digepengkan. Untuk kaleng drum bisa dimanfaatkan sebagai tempat sampah atau pot.

·       Sampah botol
Botol beling memiliki nilai tinggi, apalagi masih utuh. Jika sudah tidak utuh akan didaur ulang lagi bersama dengan berbagai jenis kaca lainnya untuk dicetak menjadi botol baru. Harga sampah botol bekas minuman lebih rendah karena bentuknya khusus sehingga pembelinya terbatas perusahaan minuman itu. Botol kecap lebih mahal karena banyak produk yang bisa dikemas dengan botol itu. Usaha botol bekas juga memberi peluang kerja bagi ibu-ibu sebagai pencuci botol.
·       Sampah plastik
Saat ini sudah banyak kerajinan yang dibuat dengan bahan dasar sampah plastik seperti tas, dompet, cover meja, dan tempat tisu.
·       Sampah B3 (limbah berbahaya dan beracun)
Limbah B3 ternyata bisa menghasilkan uang. Cairan cuci cetak film (fixer), bisa menghasilkan perak murni. Memang diperlukan pengetahuan proses kimia yang memadai karena melibatkan bahan-bahan kimia yang berbahaya dan beracun.
·       Sampah kain
Sampah kain bisa digunakan untuk cuci motor atau sebagai bahan baku kerajinan. Pakaian yang sudah tidak terpakai, tapi masih layak pakai bisa disumbangkan kepada yang membutuhkan, atau dijual dengan harga miring. Sisa kain atau kain perca juga dimanfaatkan untuk banyak aplikasi bisa selimut, tutup dispenser, magic jar, dan lainnya.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
TPA Air Dingin menampung sampah yang berasal dari kota Padang. TPA Air Dingin sejauh ini bisa menampung sampah hingga sampai 25 tahun lagi. Biasanya volume sampah organik naik pada musim-musim buah tertentu dan pada bulan ramadhan.
Sampah-sampah yang telah sampai di TPA kemudian dipisah sesuai dengan jenisnya, anorganik dan organik. Sampah organik diproses menjadi kompos, sedangkan anorganik diproses di sanitary landfill.
Pengomposan sampah-sampah anorganik di TPA ini berjalan cukup baik. Mulai dari proses pemilahan sampah, pencacahan, penumpukan selama 3 hari, penyiraman selama 46 hari, pengayakkan dan pengemasan. Kompos yang dihasilkan digunakan untuk pupuk taman-taman kota, dan berbagai tempat lainnya. Dan juga diberikan kepada warga sekitar yang membutuhkan.
5.2 Saran
  1. Pemisahan sampah organik dan anorganik harus lebih dilakukan lagi. Bukan hanya pada TPS atau bak-bak sampah saja, namun pada container dan truk-truk pengangkut sampah juga ada pemisahan;
  2. alat-alat untuk pengomposan dan sanitary landfill harus dilengkapi agar proses ini dapat dimaksimalkan;
  3. kawasan sanitary landfill juga seharusnya diberi pagar, agar ternak-ternak tersebut tidak masuk dalam area landfill.

DAFTAR PUSTAKA
Damanhuri, E. 2004.Diktat Pengelolaan Sampah.Penerbit TL ITB.Bandung.
Fauzi, Asnil. 2005. Study Characteristic And Early Study Elegibility Recycle, Composting, And Insineration Of Residential Solid Waste Padang City.Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas Padang.
Pangerani, Meuthia. 2006. Satuan Timbulan Dan Komposisi Sampah Komersil Kota Padang Pada Musim Kemarau Tahun 2005. Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas Padang.
Rahmadhani, Fitra. 2007. Analisis Sistem Transportasi Sampah Kota Padang. Tugas Akhir Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas Padang.
Tchnobanoglous, T. 1993. Integrated Solid Waste Management. McGraw Hill Inc. New York.