RADAR
A. Pengertian Radar
Radar adalah singkatan dari Radio Detection And Ranging adalah salah
satu sistem penginderaan jauh aktif. Sesuai dengan nama yang diberikan radar
dikembangkan sebagai suatu cara yang menggunakan gelombang radio untuk
mendeteksi adanya objek dan menentukan jarak (posisi) obyek tersebut. Prinsip kerja
radar ialah memancarkan dan menerima gelombang elektromagnetik yang dipantulkan
oleh target. Dalam bidang meteorology radar digunakan untuk mendeteksi dan
mengetahui letak awan dan kemungkinan terjadinya hujan.
Salah satu sistem yang penting untuk
mendukung pengamatan meteorologi adalah dengan penggunaan Radar Cuaca (Weather
Radars). Radar Cuaca adalah peralatan radar yang didesain khusus untuk
pengamatan cuaca karena memungkinkan untuk menentukan lokasi presipitasi
sehingga dapat mendeteksi tingkat lemah/kuatnya suatu badai sebagai suatu
fenomena cuaca. Radar cuaca juga dapat mendeteksi kandungan partikel air dan es
di dalam atau di bawah awan yang sangat mungkin untuk jatuh sebagai hujan,
salju atau rambun. Radar Cuaca dapat digunakan untuk mengetahui posisi hujan ,
memperhitungkan gerakannya, memperkirakan jenisnya (apakah hujan, salju, hujan
es, dan sebagainya). Sebagai alat pengamat fenomena meteorologi dan
presipitasi, Radar Cuaca mampu memberikan informasi yang lebih detail untuk
mendukung pelayanan bagi publik dalam skala dan waktu yang dibutuhkan.
Pemanfaatan
data hasil pengamatan meteorologi di permukaan, pengamatan Synoptik udara atas dengan Radiosonde/Radiowind
dan Pilot Balon serta pengamatan khusus dengan Radar Cuaca dan Satelit Cuaca
secara bersama-sama akan dapat membantu dan mempermudah pekerjaan seorang ahli
meteorologi/forecaster dalam
memberikan pelayanan dan informasi bagi pengguna jasa meteorologi seperti
pelayanan penerbangan, peningkatan produksi tanaman pangan, klaim asuransi,
peringatan banjir dan sebagainya. Radar cuaca memiliki kemampuan untuk
mendeteksi intensitas curah hujan dan cuaca buruk, misalnya badai.
B.
Jenis-Jenis Radar
1. Doppler Radar
Jenis radar ini menggunakan efek
Doppler untuk mengukur kecepatan radial dari sebuah objek yang masuk ke daerah
tangkapan. Efek Doppler adalah perubahan frekuensi atau panjang
gelombang dari sebuah gelombang yang diterima pengamat. Adapun kecepatan radial
ialah kecepatan suatu benda dalam arah segaris dengan pandangan (menjauhi atau
mendekati pengamat). Contoh
Doppler Radar ialah radar cuaca yang digunakan mengetahui seluruh fenomena yang
terjadi di atmosfer Bumi atau sebuah planet lain.
2. Bistatic Radar
Sistem radar ini terdiri dari
komponen penerima sinyal (receiver) dan pemancar sinyal (transmitter). Dengan
dua komponen tersebut, target dapat dideteksi melalui sinyal yang dipantulkan
ke pusat antena. Sistem radar itu berfungsi melacak keberadaan target melalui
proses refleksi dari sumber pencahayaan yang ada. Radar ini
selanjutnya biasa digunakan untuk sinyal komunikasi dan sistem penyiaran. frans
ekodhanto.
3. Radar presipitasi (PR : Precipitation Radar)
adalah sensor pengindera presipitasi
(curah hujan) pertama yang berada di antariksa, dan dibawa oleh satelit TRMM (Tropical
Rainfall Measuring Mission). Sensor PR satelit TRMM ini berupa radar
pengamatan secara elektronik (electronically scanning radar) terhadap
curah hujan dari antariksa, beroperasi pada frekuensi 13,8 GHz, memiliki
resolusi horisontal di permukaan sekitar 3,1 mile (5 km) dan lebar sapuan (swath
width) 154 mile (247 km). Kegunaan utama dari sensor PR satelit TRMM ini
adalah untuk pemantauan/pengukuran secara 3-D (tiga dimensi) distribusi curah
hujan yang terjadi, baik di atas daratan maupun di atas lautan, serta untuk
pengukuran kedalaman lapisan curah hujan di atmosfer itu sendiri. Secara lebih
rinci, sensor PR satelit TRMM ini dapat digunakan untuk pemantauan/pengukuran
profil (vertikal) curah hujan dan salju dari permukaan sampai ketinggian
sekitar 12 mile (20 km), dengan resolusi vertikal setiap 250 m, dan
sensitivitas sinyal minimum yang mampu di deteksi senor PR satelit TRMM ini
lebih kurang 20 dBz atau setara dengan kecepatan curah hujan (rain rate)
sekitar 0,7 mm / jam. (Fu dan Liu, 2001). Sensor PR satelit TRMM ini didisain
oleh NASDA (National Space Development Agency) Jepang, yang sekarang
dikenal sebagai JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency) Jepang dalam
rangka kerjasama dengan NASA (National Aeronautics and Space Administration)
Amerika Serikat untuk memantau dan studi curah hujan di daerah tropis.
4. Equatorial Atmosphere Radar (EAR)
EAR adalah radar doppler yang dibangun untuk observasi di
daerah ekuator, radar ini selesai diinstal sejak bulan Maret 2001. EAR
beroperasi pada 47 MHz dengan maksimum peak dan kekuatan transmisi rata-rata
100 kW dan 5 kW. EAR diinstal pada area pengunungan di bagian barat Sumatra
yang berlokasi pada 0.20º S, 100º E di Bukittinggi.
Prinsip pengukuran angin dengan radar memancarkan dan
menerima pulsa radiasi gelombang mikro dengan antenanya. Antena memfokuskan
radiasi menjadi beam sempit, sehingga sinyal yang ditransmisikan berjalan pada
arah yang spesifik. Sinyal yang diterima dipantulkan dari target yang terletak
di arah beam, dan jarak antar radar dengan target bisa ditentukan secara akurat
dari selang waktu sinyal yang dipancarkan sampai sinyal yang diterima. Di
stasiun ini dibangun Radar Atmosfer Khatulistiwa (Equatorial Atmospheric Radar)
untuk memantau kondisi atmosfer hingga ketinggian lebih dari 100 kilometer.
Dengan instrumen ini diukur angin dalam tiga dimensi. Selain itu diperoleh data
suhu virtual dengan menggunakan gelombang suara untuk kemudian dikonversikan
guna memperoleh gambaran besarnya kandungan uap air di atas atmosfer Sumatera
Barat.
5. Boundary Layer Radar (BLR)
BLR merupakan L-band Doppler radar yang disebutkan sebagai
radar profil angin yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan angin pada
suatu tempat sebagai fungsi dari ketinggian. Boundary Layer atmosfer
sendiri didefinisikan sebagai bagian dari troposfer yang secara langsung
dipengaruhi oleh permukaan bumi dan bereaksi dengan gaya permukaan dalam skala
waktu kurang dari satu jam. Gaya ini termasuk evaporasi, transpirasi, transfer
panas dan emisi polutan (Nurmayani, 2003).
Sistem perangkat BLR terdiri dari
unit antena, unit transmitter, unit penerima, unit akusisi data dan unit
pemroses sinyal. Pada pengamatan dengan BLR sinyal frekuensi radio yang
diperkuat dalam unit transmitter, dipancarkan dari antena parabola. Sinyal
lemah yang dipantulkan turbulensi atmosfer, dikumpulkan antena dan ditransfer
ke unit penerima. Sinyal yang diterima akan diperkuat, dideteksi dan diubah ke
sinyal video dalam unit penerima kemudian sinyal video dikirim ke unit pemroses
data. BLR memiliki daya sebesar 1 kW dengan resolusi spasial 100 m dan resolusi
temporal 1 menit. Kisaran ketinggian BLR sekitar 1-5 km. BLR menggunakan tiga
buah antena parabola dengan diameter masing-masing 2 m. Antena-antena diarahkan
ke tiga titik berbeda yaitu satu beam tepat kearah vertikal, dua beam lainnya
kearah timur dan utara dengan sudut zenith maksimum 30º. Untuk
mendapatkan tiga komponen angin, BLR harus beroperasi dengan menggunakan
frekuensi tinggi. Sebagai konsekuensi penggunaan frekuensi tinggi ini,
pemantulan volume radar dari turbulensi atmosfer akan lebih kecil bila
dibandingkan butir hujan. Akibatnya BLR tidak dapat mengukur pergerakan
atmosfer secara langsung pada saat awan hujan atau mendung.
6. X-band
Radar (XDR)
X-band merupakan radar doppler yang dapat mendeteksi awan
sampai pada jarak 83 km. X-band beroperasi pada 9.445 GHz dan kekuatan
transmisi puncaknya 40 kW dengan resolusi waktu 4 menit dan resolusi spasial
250 m. Pada tanggal 10 April-9 Mei 2004, X-band dipasang pada sebuah volume
pengamatan dengan 17 sudut zenith dari 0.7º-40.0º. Untuk melihat aktivitas awan
di Kototabng, X-band dipasang dengan jarak 20 km dari arah tenggara EAR dan
dapat mengamati awan pada ketinggian lebih dari 14 km.
C. Komponen Radar
Komponen
utama radar cuaca:
1. Pemancar
(transmitter)
Terdiri atas sebuah tabung osilator
bebas (magnetron) yang bekerja dalam implusi antara 0,5 dan 2,0 µs dan
menimbulkan daya emisi sebesar 100 kW dan 2,0 MW.
2. Antena
Alat
ini adalah bagian yang memancarkan impulsi daya dan menerima echo.
Antena yang memusatkan energi radioelektrik yang terletak di dalam sebuah
kerucut relatif kecil antara 0,5° dan 3° memberikan gain.
Umumnya radar meteorologi menggunakan satu antena unik, untuk memancarkan dan
menerima energi dengan menggunakan sebuah komutator otomatik untuk menutup
penerima pada waktu transmitter bekerja.
3. Penerima (receiver)
Alat ini mendeteksi dan mengubah
signal yang diterima dalam bentuk video. Kita tak dapat mendeteksi echo dimana
amplitudonya di bawah kebisingan khusus dari penerima, karenanya kita berusaha
mengecilkan kebisingan semaksimal mungkin.
4. Indikator
Alat ini
bekerja sebagai osiloskop. Umumnya
radar meteorologi menggunakan indikator RHI (Range Height Indicator) dan
indikator panoramik PPI (Plan Position Indicator).
Selain
tiga komponen di atas, sistem radar juga terdiri dari beberapa komponen
pendukunglainnya, yaitu:
1.
Waveguide, berfungsi sebagai penghubung
antara antena dan transmitter.
2. Duplexer, berfungsi sebagai tempat
pertukaran atau peralihan antara antena danpenerima atau pemancar sinyal ketika
antena digunakan dalam kedua situati tersebut.
3. Software, merupakan suatu bagian
elektronik yang berfungsi mengontrol kerja seluruhperangkatdan antena ketika
melakukan tugasnya masing-masing.
Gambar
1. Diagram dasar instalasi radar
meteorologi
D. Prinsip Kerja Radar
Prinsip radar, komponen utamanya
adalah transmitter, antena dan penerima (receiver). Transmitter membangkitkan
pulsa energi pendek pada frekuensi radio dalam spektrum elektromagnetik.
Pulsa-pulsa energi ini difokuskan oleh antena ke dalam sinar yang sempit yang
menjalar dengan kecepatan cahaya. Jika pulsa-pulsa tersebut menangkap sebuah
obyek dengan karakteristik refraktif yang berbeda dengan udara, maka ada arus
yang diinduksikan dalam objek yang mengganggu pulsa dan menyebabkan beberapa
energi dihamburkan. Sebagian energi ini akan diretrodifusikan ke antena dan
jika komponen energi yang diretrodifusikan cukup besar maka energi akan dideteksi
oleh antena.
Fungsi utama radar adalah mengukur
jarak dan memuat objek (target) yang diretrodifusikan. Jarak diselesaikan
dengan putaran waktu yang memperhitungkan waktu antara transmisi (pemancaran)
suatu pulsa dan penerimaan sebuah sinyal. Arah target ditentukan dengan
mencatat elevasi dan azimut antena pada saat sinyal diterima. Gambar 1 menunjukkan
sistem radar non koheren yang tak memperhitungkan fase gelombang radar yang
kembali terhadap fase gelombang yang ditransmisikan. Umumnya radar cuaca memakai
1 antena untuk memancarkan dan menerima energi dengan bantuan
"komutator" otomatik yang berfungsi menutup penerima pada waktu
transmitter bekerja.
Gambar 2. Mekanisme
yang terjadi pada radar cuaca
Hasil pengamatan radar berupa gambar
(citra) yang dapat dilihat pada layar monitor radar. Gambar tersebut memiliki
makna bila pengamat mampu menerjemahkan informasi yang terkandung di dalamnya
dengan interpretasi gambar. Interpretasi adalah kegiatan mendeteksi dan menilai
arti penting obyek dari suatu target yang terlihat pada layar monitor radar. Tampilan citra
radar perlu diinterpretasi dengan teliti agar menghasilkan informasi yang
benar.
Echo yang
dihasilkan pada target presipitasi umumnya akan tampak sebagai daerah yang
padat (cells), garis atau luasan. Bagian pusat echo biasanya menunjukkan daerah
presipitasi yang hebat. Bentuk, ukuran dan kekuatan echo dapat dijadikan
petunjuk untuk mendeteksi cuaca yang berbahaya khususnya berkaitan dengan
thunderstorms.

Gambar 3. Citra radar cuaca milik luar negeri (Kanada)
Citra radar cuaca menggambarkan
potensi intensitas curah hujan yang dideteksi oleh radar cuaca. Pengukuran
intensitas curah hujan (presipitasi) oleh radar cuaca berdasarkan seberapa
besar pancaran energi radar yang dipantulkan kembali oleh butiran-butiran air
di dalam awan dan digambarkan dengan produk Reflectivity yang memiliki besaran
satuan dBZ (decibel). Makin besar energi pantul yang diterima radar maka makin
besar juga nilai dBZ, dan semakin besar nilai dBZ reflectivity menunjukkan
intensitas hujan yang terjadi semakin besar. Jangkauan terjauh/maksimum produk
Reflectivity dari radar BMKG adalah sekitar 240 km dari lokasi radar. Skala dBZ pada
legenda berkisar 5 - 75 yang dinyatakan dengan gradasi warna biru langit hingga
ungu muda. Jika gradasi warna semakin ke arah ungu maka semakin tinggi
intensitas hujannya. Kisaran intensitas hujan berdasarkan skala warna dBZ dan
mm/jam disajikan seperti dalam tabel berikut:Skala dBZ pada legenda berkisar 5
- 75 yang dinyatakan dengan gradasi warna biru langit hingga ungu muda. Jika
gradasi warna semakin ke arah ungu maka semakin tinggi intensitas hujannya.
Kisaran intensitas hujan berdasarkan skala warna dBZ dan mm/jam.
E.
Manfaat Radar
Manfaat
dari adanya radar yaitu:
1. Untuk mengetahui intensitas curah
hujan, mendeteksi kecepatan, dan arah angin;
2. untuk mendeteksi posisi dan keberadaan
pesawat terbang lain;
3. untuk mencapai sasaran/target
penembakan;
4. untuk mendeteksi kecepatan kendaraan
bermotor saat melaju di jalan;
5. untuk mengatur jalur perjalanan
kapal agar setiap kapal dapat berjalan dengan baik dan tidak bertabrakan;
6. untuk mengatur lalu lalang serta
kelancaran lalu lintas udara bagi setiap pesawat terbang yang akan lepas landas
(take off), terbang, maupun yang akan mendarat (landing).
Data
radar cuaca dapat dimanfaatkan untuk peringatan dini bencana yang disebabkan
oleh fenomena meteorologi, karena dapat menentukan lokasi, jenis, pertumbuhan
(sedang tumbuh, dewasa atau sudah matang), tinggi, kandungan air, arah gerak
dan luasan daerah yang tertutup oleh awan. Dapat juga mendeteksi potensi
terjadinya hujan, intensitas hujan dan daerah yang akan dilewati oleh awan dan
hujan. Citra radar cuaca akan dapat digunakan sebagai bahan informasi yang
benar bagi pelayanan, apabila sang
forecaster dapat menginterpretasi/ menerjemahkan arti penting suatu objek
pada target secara teliti.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar