Translate

Rabu, 30 Oktober 2013




MAKALAH EPIDEMIOLOGI LINGKUNGAN
METODA DALAM PENELITIAN EPIDEMIOLOGI
(Case Control Study dan Cohort Study)

OLEH:
KELOMPOK I
ANGGOTA:
                 M. DHIO FADHILLA                  (1110942023)
                 SHABRINA YUNITA SARI       (1110942039)
                 SITI HARIANI RITONGA          (1210941007)
                 WIDIA DETIARI RUKMANA    (1210942023)

DOSEN:
ZULKARNAINI, MT
Lambang_Universitas_Andalas.png

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2013

BAB I


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Permasalahan kesehatan di masyarakat, apalagi masalah tentang penyakit yang terjadi di masyarakat tentu membutuhkan adanya tindakan penyelesaian. Masalah kesehatan harusnya menjadi PR bagi sektor kesehatan itu sendiri. Anggapan seperti ini hendaknya harus dihindari. Masalah yang berada dalam masyarakat bisa menjadi kompleks karena menjamah sektor lainnya juga. Untuk itu diperlukan pemecahan masalah bersama dengan kontribusi sektor lain maupun stakeholders (pihak yang berkepentingan). Adanya hubungan dengan sektor lain tetapi tetap harus selalu memperbaiki kemampuan sektor yang bersangkutan.
Penelitian epidemiologi dirasa perlu diuraikan dalam epidemiologi lingkungan. Hal ini menjadi sangat penting karena beberapa hal. Yang pertama, zat pencemar lingkungan akan semakin banyak dilihat dari segi kuantitas maupun kualitasnya, kebanyakan belum, atau tidak jelas efeknya terhadap kesehatan, sehingga perlu terus dipantau. Pemantauan dengan tujuan sedemikian perlu dilakukan dengan menggunakan metode penelitian epidemiologi lingkungan, karena gejala yang ditimbulkan pencemar lingkungan sering kali tidak berbeda dari penyakit infeksi biasa, sedangkan agentnya sangat berbeda. Selain itu, suatu zat pencemar (agent) bisa menyebabkan timbulnya gejala dari berbagai penyakit yang dikenal, dan sebaliknya berbagai zat pencemar (agent) dapat memberi gejala yang sama. Yang kedua, karena zat pencemar merupakan agent potensial, karena sifatnya yang tergolong berbahaya. Untuk meneliti masalah tersebut, maka kita perlu mengetahui prinsip-prinsip dasar dan metode-metode penelitian epidemiologi yang dapat digunakan untuk penelitian awal.
1.2  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.   Memahami model-model dasar dalam penelitian epidemiologi;
2.   Memahami penelitian epidemiologi dengan metode penelitian case control;
3.   Memahami metode penelitian epidemiologi dengan metode penelitian cohort study;
4.   Memahami perbedaaan antara metode penelitian case control dan cohort study.
1.3  Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah:
1.    Apa saja metode-metode penelitian dalam penelitian epidemiologi?
2.    Bagaimana cara penelitian epidemiologi dengan metode case control?
3.    Bagaimana cara penelitian epidemiologi dengan metode cohort study?
4.    Apa saja perbedaan metode penelitian case control  dan cohort study?

BAB II
ISI
2.1 Model-Model Dasar dalam Penelitian Epidemiologi
Pada umumnya penelitian epidemiologi dapat dilakukan di laboratorium atau lapangan. Dapat pula bersifat observasional dan eksperimental. Penelitian experimental dapat dilakukan pada hewan percobaan ataupun kepada manusia. Eksperimen dapat dilakukan dalam situasi alamiah atau disimulasi. Penelitian eksperimental biasanya melakukan manipulasi terhadap satu kelompok populasi dan dibandingkan dengan kelompok lain yang tidak dimanipulasi (Soemirat, 1999).
Sebaliknya penelitian observasional dilakukan dalam keadaaan tanpa melakukan apapun terhadap populasi secara sengaja. Oleh karena itu, penelitian ini lebih realistis, namun sangan kompleks, karena banyak faktor pengganggu yang tidak dikontrol. Desain penelitian harus baik sehingga dapat dihindarkan dari gangguan yang terlalu banyak. Metode untuk menghilangkan atau mencegah factor pengganggu seperti yang disebut confounder, sudah tersedia, begitu juga metode analisis yang lebih canggih sudah bias diperoleh dengan menggunakan paket program komputer. Baik penelitian eksperimental dan penelitian observasional dapat berguna pada taraf-taraf penelitian tertentu (Universitas Hassanuddin, 2013).
Penelitian observasional dapat berupa survei jangka panjang atau jangka pendek, dan bersifat deskriptif ataupun analitis. Penelitian deskriptif biasanya dilakukan dengan melakukan survei seperti halnya survei kesehatan rumah tangga, yang dilakukan secara rutin. Juga survei jangka panjang yang disebut surveillance untuk memonitor keadaan suatu penyakit sedangkan penelitian analitis dilakukan dengan tiga model dasar, dan kita akan membahas dua buah dari tiga model tersebut. Sebagaimana layaknya penelitian pada umumnya, penelitian epidemiologi  juga harus ada struktur-strukturnya. Dimulai dari perumusan permasalahan, tujuan, metode yang digunakan untuk dapat mencapai tujuan, populasi yang diteliti perlu didefinisikan dengan jelas, parameter yang digunakan, prosedur pengumpulan data, analisis data sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Dalam epidemiologi dikenal tiga model dasar penelitian observasional analitis, yaitu kasus kendali (case control), cohort study, dan cross sectional. Disamping itu ada dua model lagi yang sangat berguna bagi penelitian awal, yaitu studi deskriptif dan ekologis (Soemirat, 1999).
2.2 Penelitian Epidemiologi Model Case Control
Model case control  sering disebut juga kasus kendali atau case history dan retrospektif. Penelitian jenis ini dilakukan apabila penyakit sudah ada/ sudah manifest, tetapi tidak diketahui penyebabnya. Karena agent itu selalu bertindak dan beraksi sebelum terjadinya penyakit, maka penelitian ini meninjau kembali ke masa lalu untuk mencari agentnya. Oleh karena itu penelitian ini disebut penelitian retrospektif atau menelusuri histori atau sejarah perkembangan penyakit. Penelitian ini semakin banyak dilakukan untuk mencari penyebab penyakit yang belum diketahui, terutama berbagai jenis penyakit yang jarang didapat seperti berbagai jenis kanker (Soemirat, 1999).
Analisis data dalam studi kasus kendali diarahkan mencari perbedaan antara populasi yang sakit dan tidak sakit sehubungan dengan penyebab potensial yang diperkirakan (paparan). Pada studi kasus kendali, kasus yang digunakan pada penelitian bukan kasus tergolong insidensi, tetapi sering kali berupa prevalensi. Pada metode case control, peneliti  menggunakan kasus-kasus  yang sudah ada dan memilih control (non-kasus) yang sebanding. Lalu peneliti mencari informasi status (riwayat) paparan masing-masing subjek kasus dan kontrol. Jadi pada studi kasus kontrol peneliti tidak bisa menghitung risiko dan risiko relatif (RR). Sebagai ganti risiko, pada studi kasus control peneliti menggunakan Odd. Odd adalah probabilitas dua peristiwa yang berkebalikan, misalnya sakit versus sehat, mati versus hidup, terpapar versus tak terpapar. Pada studi kasus kontrol, Odd pada kasus adalah rasio antara jumlah kasus yang terpapar dibagi tidak terpapar. Odd pada kontrol adalah rasio antara jumlah kontrol terpapar dibagi tidak terpapar. Jika odd pada kasus dibagi dengan odd pada kontrol, diperoleh Odds Ratio (OR). OR digunakan pada studi kasus kontrol sebagai pengganti RR (Universitas Hassanuddin, 2013).
Ada dua kemungkinan menghitung RR pada model case control (Soemirat, 1999):
-  apabila digunakan insidensi suatu populasi;
-  apabila tidak bisa dikaitkan pada suatu insidensi populasi tertentu.

Contoh menghitung RR apabila tidak dihubungkan dengan suatu populasi (Sriwahyuni, 2012):
RR = OR =  

Dan apabila penyakit jarang terjadi maka (a + b)  a, dan (c + d)  d, sehingga rumus RR menjadi:
RR = OR =
Penelitian retrospektif/ case control memiliki ciri- ciri sebagai berikut (Universitas Hassanuddin):
a.   Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional;
b.   diawali dengan kelompok penderita dan bukan penderita;
c.   terdapat kelompok kontrol;
d.   kelompok kontrol harus memliki resiko terpajan oleh faktor resiko yang sama dengan kelompok kasus;
e.   membandingkan besarnya pengalaman terpajan oleh factor resiko antara kelompok kasus dan kelompok kontrol;
f.    tidak mengukur insidensi.
Penelitian case control memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut (Universitas Hassanuddin):
a.   Sangat sesuai untuk penelitian penyakit yang jarang tterjadi atau penyakit dengan fase laten yang panjang atau penyakit yang sebelumnya tidak pernah ada;
b.   pelaksanaannya relatif  lebih cepat jika dibandingkan dengan cohort karena pada penelitian case control  diawali dengan penderita yang berarti penyakit yang diteliti telah timbul, sedangkan pada penelitian cohort, insidensi penyakit yang akan diteliti harus menunggu cukup lama;
c.   sampel yang dibutuhkan untuk penelitian case control lebih kecil dari pada penelitian cohort walaupun digunakan beberapa kontrol untuk satu kasus;
d.   biaya penelitiannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan penelitian cohort karena sampel yang lebih sedikit dan waktu yang lebih singkat;
e.   tidak dipengaruhi oleh faktor etis seperti penelitian eksperimen;
f.    data yang ada mungkin dapat dimanfaatkan terutama bila penelitian dilakukan di rumah sakit; dan
g.   kemungkinan untuk mengadakan penelitian terhadap beberapa faktor yang diduga sebagai faktor penyebab.
Disamping beberapa keuntungan tersebut, terdapat pula beberapa kerugian sebagai berikut (Universitas Hassanuddin):
a.   Kesalahan pemilihan kasus yang disebabkan kesalahan dalam diagnose;
b.   kesalahan dalam pemilihan kontrol;
c.   berpotensi timbulnya bias informasi;
d.   validitas data yang diperoleh tidak dapat dilakukan;
e.   pengendalian terhadap factor perancu (confounding factor) sulit dilakukan dengan lengkap;
f.    perhitungan resiko relatif hanya berupa perkiraan; dan
g.   tidak didapat dilakukan untuk penelitian evaluasi hasil penelitian.
2.3 Penelitian Epidemiologi Model Cohort Study
Model kohort juga disebut dengan sudi follow up atau studi insidensi. Penelitian kohort berbeda dengan case control atau kasus kendali karena pada saat penelitian belum didapat penderita penyakit, tetapi sudah diketahui adanya agent potensial yang memapari populasi yang kan diteliti dalam berbagai kategori. Studi ini bersifat kedepan (forward looking) sehingga penelitian dimulai dari faktor risikonya. Variabel merupakan agent potensial didefinisikan dan diukur, sementara itu kohort diikuti kesehatannya dan apabila terjadi penyakit diperiksa untuk melihat sesuai tidaknya penyakit tersebut dengan didefinisikan sebelum mulai penelitian. Kasus yang dicatat adalah yang diinginkan dan nantinya akan diperbandingkan terhadap jumlah kasus penyakit yang berada dalam kategori kontrol. Oleh karena dilakukan penelusuran dan pemantauan aksi agent terhadap populasi untuk mencari apakah terjadi efek kesehatan/ penyakit, maka penelitian ini disebut prospektif. Dalam penelitian inipun perlu diperhatikan komparabilitas antara kohort dan pembanding. Perbedaan yang nyata hanya terletak pada pemaparan terhadap variabel lingkungan yang diteliti (Soemirat, 1999).
Studi kohort adalah studi observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan memilih dua atau lebih kelompok studi berdasarkan status paparan kemudian diikuti (follow up) hingga periode waktu tertentu sehingga dapat diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit. Apabila periode induksi yaitu kejadian penyakit dapat diamati dalam waktu yang panjang maka studi kohort rawan terhadap bias penarikan responden (banyak yang drop out dari observasi), perlu dana yang besar dan waktu yang panjang. Namun studi kohort mempunyai kekuatan dalam membuktikan inferensi kausa dibanding studi observasional lainnya, didapatkan angka incidence rate secara langsung, serta cocok untuk meneliti paparan yang langka (Universitas Hassanudding,2012).
Kerangka dasar kohort (Sriwahyuni, 2012):
Kasus
Eksposur (bahan zat)
Total
(+)
(-)
(+)
a
b
(a+b)
(-)
c
d
(c+d)
Total
(a+c)
(b+d)

Rumus:
1.   Insiden kelompok terpapar:
 a/ (a+c)
2.   Insiden kelompok tidak terpapar:
b/ (b+d)
sehingga:
RR= (a/ (a+c)) / (b / (b+d)) = (a(b+d)) / ((b (a+c))
Ket: RR = relative risk
RR = 1, risiko kelompok terpapar sama dengan kelompok tidak terpapar
RR > 1, terpapar menyebabkan sakit
RR < 1, terpapar mencegah sakit
Penelitian kohort memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan penelitian kohort adalah (Soemirat, 1999):
a.   Dapat dikuantifikasi dengan akurat jumlah paparan yang diterima populasi;
b.   penyakit yang terjadi dapat diperiksa dan dibuat diagnose secara teliti;
c.   tidak terjadi bias seperti pada kasus kendali;
d.   hubungan sebab dan akibat lebih jelas/ pasti dan lebih meyakinkan; dan
e.   merupakan pengukuran resiko yang sangat langsung.
Diantara keuntungan-keuntungan tersebut, metode penelitian kohort juga memiliki kerugian, antara lainSoemirat, 1999):
a.   Waktu follow up bisa sangat lama sebelum terjadi penyakit, karenya menjadi mahal;
b.   populasi banyak yang tidak tetap berada di lingkungan terpapar, atau berpindah, sehingga sulit memperkirakan paparan individual;
c.   kemungkinan populasi pindah dan meninggal akibat penyakit lain, menyebabkan banyak drop out yang mungkin sulit untuk diganti, dan data menjadi sangat sedikit;
d.   apabila penyakit jarang sekali didapat, maka waktu penelitian bertambah lama; dan
e.   jumlah drop out biasanya sebanding dengan lamanya penelitian.
Melihat keuntungan dan kerugian kasus kendali (case control) dan kohort, maka biasanya penelitian kohort dilakukan setelah setelah selesai penelitian retrospektif.
2.4 Perbedaan Metode Penelitian Case Control  Dan Cohort Study
Berikut adalah perbedaan antara metode penelitian case control dan cohort study (Sriwahyuni, 2012):
Case Control
Cohort Study
Membandingkan kelompok yang menderita penyakit dengan yang tidak menderita
Membandingkan kelompok yang terkena (terpapar) dengan yang tidak terpapar
Diketahui akibat, mencari penyebab
Diketahui penyebab, mencari akibat
Jarak penyebab dan akibat singkat
Jarak penyebab dan akibat lama
Cross sectional, prevalence, dan retrospektif survei
Longitudinal, insidence, prospektif, dan quasiexperimental study  
Menghitung OR
Menghitung RR dan attributle Risk
Penempatan kasus dan penyebab dinamis dlm kerangka tabulasi
Penempatan penyebab pemaparan di atas dan kasus di samping dalam tabulasi


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat berdasarkan uraian di atas adalah:
1.   Dalam penelitian epidemiologi ada tiga model dasar penelitian observasional analisis, yaitu kasus kendali (case control), cohort study, dan cross sectional;
2.   metoda penelitian case control atau kasus kendali adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya (retrospektif). Pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak;
3.   metoda penelitian cohort study adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dengan penyakit dengan cara membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit. Pemilihan subjek berdasarkan status paparannya dan kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek dalam perkembangannya mengalami penyakit yang diteliti atau tidak. Peneliti hanya mengamati dan mencatat paparan dan penyakit tanpa sengaja membuat subyek terpapar.
4.   perbedaan antara metode penelitian case control dan cohort study:
Case Control
Cohort Study
Membandingkan kelompok yang menderita penyakit dengan yang tidak menderita
Membandingkan kelompok yang terkena (terpapar) dengan yang tidak terpapar
Diketahui akibat, mencari penyebab
Diketahui penyebab, mencari akibat
Jarak penyebab dan akibat singkat
Jarak penyebab dan akibat lama
Cross sectional, prevalence, dan retrospektif survei
Longitudinal, insidence, prospektif, dan quasiexperimental study  
Menghitung OR
Menghitung RR dan attributle Risk
Penempatan kasus dan penyebab dinamis dlm kerangka tabulasi
Penempatan penyebab pemaparan di atas dan kasus di samping dalam tabulasi


3.2 Saran
Kita harus memahami dengan seksama pengertian dari metoda-metoda penelitian epidemiologi, sehingga dapat ditentukan metoda mana yang akan digunakan dalam menyelesaikan suatu kasus epidemiologi.


DAFTAR PUSTAKA
Soemirat, Juli. 1999. Epidemiologi Lingkungan. Bandung: Gadjah Mada University Press
Sriwahyuni, Dila. 2012. Bahan Kuliah Case Control dan Cohort Study. Padang: Universitas Andalas
Universitas Hasanuddin. 2013. Modul Prinsip Epidemiologi. http://repository.unhas.ac.id /Modul Prinsip Epidemiologi.pdf/. Tanggal akses: 30 Oktober 2013