Translate

Sabtu, 19 Oktober 2013

PENERAPAN IQ, EQ, DAN SQ DALAM DUNIA PENDIDIKAN


Pendidikan adalah cermin kepribadian bangsa. Setiap individu memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Kecerdasan tersebut diperoleh dari bawaan lahir, didikan orang tua, pembelajaran, dan pergaulan. Tingkat kecerdasan yang dimiliki seseorang terdiri dari IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emosional Quotient), dan SQ (Spiritual  Quotient). Ketiganya merupakan komponen yang menentukan bagaimana seseorang berpikir, bersikap, berprilaku, bertindak, dan berkata.
Berikut pengertian IQ, EQ, dan SQ (Ginanjar, 2007):
1.  IQ (Intelligence Quotients)
IQ merupakan kecerdasan manusia dalam kemampuan untuk menalar, perencanaan, kemampuan memecahkan masalah, belajar, memahaman gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya.
2.  EQ (Emotional Quotients)
Kecerdasan emosional adalah kemampuan pengendalian diri sendiri, semangat, ketekunan, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi tekanan, kesanggupan mengendalikan dorongan hati dan emosi, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya.
3.  SQ (Spiritual Quotients)
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berasal dari dalam hati, menjadikan kita kreatif ketika dihadapkan pada masalah pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya, serta menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan  kedamaian hati.
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal.          
Pada umumnya, pembelajaran yang berkembang pada pendidikan formal mengacu  pada pengembangan kognitif (IQ). Akibatnya siswa cenderung menghafal apa yang disampaikan oleh gurunya. Contonya, mahasiswa yang memiliki IQ tinggi akan mudah memahami penjelasan dosen, cepat dan tanggap terhadap suatu masalah, lugas, dan berfikir kreatif. Ketika ujian, mahasiswa tersebut membaca buku sesaat menjelang ujian, dan ia bisa mendapatkan nilai memuaskan. Ini terjadi karena mahasiswa tersebut bisa mengatur jadwal belajarnya dengan baik dan benar, sehingga sewaktu akan ujian mahasiswa tersebut tidak keteteran dalam belajar. Lain halnya apabila seseorang memiliki IQ biasa saja namun EQ tinggi, misalnya saja Printa tidak terlalu pintar dalam pelajaran, namun setiap ada pembagian kelompok, teman-temannnya selalu ingin sekelompok dengannya, bahkan setiap ada kegiatan seperti pemberian sumbangan dan menjenguk teman yang sakit Printa menjadi pilihan utama. Printa memang bukan siswa yang cerdas itelektual, namun dia memiliki kecerdasan emosional yang tinggi sehingga mampu berempati, memahami, mengendalikan emosi, berkomunikasi, bersosialisasi dan menempatkan dirinya secara tepat sesuai dengan situasi yang ada.
Kasus lainnya, mahasiswa yang IQ dan EQnya tinggi namun tidak disukai teman-temannya, hanya orang-orang tertentu yang bekerja sama dengannya yang menyukainya. Misalnya, seorang mahasiswa yang menjabat sebagai ketua panitia acara besar di jurusannya, diam-diam mengambil dana acara untuk kepentingan pribadi. Apabila ketahuan, maka ia akan dijauhi semua orang. Hal ini karena kurangnya SQ yang dimilikinya.
Untuk menghasilkan pribadi yang utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual maka harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ, dan SQ secara maksimal karena ketiga kecerdasan ini adalah perangkat yang bekerja dalam satu sistem yang saling terkait dalam diri manusia, sehingga tidak tepat jika dipisahkan fungsinya.
ESSAY DATA PRINT J
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary Ginanjar, 2007, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual. Jakarta: ARGA Publishing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar