Pendidikan
adalah cermin kepribadian bangsa. Setiap
individu memiliki
tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Kecerdasan tersebut diperoleh dari bawaan
lahir, didikan orang tua, pembelajaran, dan pergaulan. Tingkat kecerdasan yang
dimiliki seseorang terdiri dari IQ (Intelligence
Quotient), EQ (Emosional Quotient),
dan SQ (Spiritual Quotient). Ketiganya merupakan komponen
yang menentukan bagaimana seseorang berpikir, bersikap, berprilaku, bertindak,
dan berkata.
Berikut pengertian IQ, EQ, dan SQ (Ginanjar, 2007):
1. IQ (Intelligence Quotients)
IQ merupakan
kecerdasan manusia dalam kemampuan untuk menalar, perencanaan, kemampuan
memecahkan masalah, belajar, memahaman gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan
lainnya.
2. EQ (Emotional Quotients)
Kecerdasan emosional adalah
kemampuan pengendalian diri sendiri, semangat, ketekunan, kemampuan untuk
memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi tekanan, kesanggupan mengendalikan
dorongan hati dan emosi, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres
tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang
lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan sebaik-baiknya, kemampuan
untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan
sekitarnya.
3. SQ (Spiritual Quotients)
Kecerdasan spiritual adalah
kecerdasan yang berasal dari dalam hati, menjadikan kita kreatif ketika
dihadapkan pada masalah pribadi, dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya,
serta menyelesaikannya dengan baik agar memperoleh ketenangan dan
kedamaian hati.
Pendidikan merupakan proses
sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang
memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat
berkembang secara optimal.
Pada umumnya, pembelajaran yang
berkembang pada pendidikan formal mengacu pada pengembangan kognitif (IQ).
Akibatnya siswa cenderung menghafal apa yang disampaikan oleh gurunya. Contonya,
mahasiswa yang memiliki IQ tinggi akan mudah memahami
penjelasan dosen,
cepat dan tanggap terhadap suatu masalah, lugas, dan berfikir kreatif.
Ketika ujian, mahasiswa tersebut membaca buku
sesaat menjelang ujian, dan ia
bisa mendapatkan nilai memuaskan. Ini terjadi
karena mahasiswa tersebut bisa mengatur jadwal belajarnya dengan baik dan benar, sehingga
sewaktu akan ujian mahasiswa tersebut tidak keteteran dalam belajar. Lain halnya
apabila seseorang memiliki IQ biasa saja namun EQ tinggi, misalnya saja Printa tidak
terlalu pintar dalam pelajaran, namun setiap ada pembagian kelompok,
teman-temannnya selalu ingin sekelompok dengannya, bahkan setiap ada kegiatan
seperti pemberian sumbangan dan menjenguk teman yang sakit Printa menjadi pilihan
utama. Printa memang bukan siswa yang cerdas itelektual, namun dia memiliki
kecerdasan emosional yang tinggi sehingga mampu berempati, memahami,
mengendalikan emosi, berkomunikasi, bersosialisasi dan menempatkan dirinya
secara tepat sesuai dengan situasi yang ada.
Kasus lainnya, mahasiswa yang IQ dan EQnya tinggi namun
tidak disukai teman-temannya, hanya orang-orang tertentu yang bekerja sama
dengannya yang menyukainya. Misalnya, seorang mahasiswa yang menjabat sebagai
ketua panitia acara besar di jurusannya, diam-diam mengambil dana acara untuk kepentingan
pribadi. Apabila ketahuan, maka ia akan dijauhi semua orang. Hal ini karena
kurangnya SQ yang dimilikinya.
Untuk menghasilkan pribadi yang utuh
secara intelektual,
emosional, dan spiritual maka harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ,
EQ, dan SQ secara maksimal karena ketiga
kecerdasan ini adalah perangkat yang bekerja dalam satu sistem yang saling
terkait dalam diri
manusia, sehingga tidak tepat jika dipisahkan fungsinya.
ESSAY
DATA PRINT J
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary Ginanjar, 2007,
Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual. Jakarta: ARGA Publishing.
http://tekpenikip.wordpress.com/pentingnya-3-kecerdasan-dalam-pendidikan/. Diakses tanggal: 19 Oktober 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar