LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN
ANALISIS DETERJEN
OLEH :
NAMA
: SHABRINA YUNITA SARI
NO.BP : 1110942039
HARI/TANGGAL
PRAKTIKUM : SABTU / 10 NOVEMBER 2012
KELOMPOK : V ( LIMA ) GANJIL
REKAN KERJA : 1. REVITA MIZALIA (1110942007)
2.
RAI SAPUTRA P.M (1110941021)
3.
HESTIA MARIESTA (1110942037)
ASISTEN:
LUCIANA GUSTIN
![]() |
LABORATORIUM AIR
JURUSAN
TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS
TEKNIK-UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Menentukan kadar surfaktan anionik yang terkandung dalam
deterjen pada air buangan dengan metode spektofotometri.
1.2 Metode Percobaan
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah
spektofotometri.
1.3 Prinsip Percobaan
Surfaktan anionik bereaksi dengan biru metilen membentuk
pasangan ion biru yang larut dalam pelarut organik. Intensitas warna biru yang
terbentuk diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 652 nm.
Serapan yang terukur setara dengan kadar surfaktan anion.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kondisi Eksisting Wilayah Sampling
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan sampling di Komplek Perumahan Bariang, Anduring. Pengambilan sampel
dilakukan pada hari Jumat tanggal 16 November 2012 mulai pukul 18.30 – 19.00
WIB. Sampel yang diambil yaitu limbah dari saluran pembuangan komplek tersebut
yang dialirkan melalui sebuah pipa menuju selokan. Saat pengambilan sampel
dapat dilihat kondisi eksisting wilayah sampling secara fisik. Limbah dari saluran tersebut terlihat keruh
dan warnanya pun agak kecoklatan. Cuaca pada saat itu sedang mendung, jadi
tidak terjadi pengenceran. Karena sampel diambil pada malam hari, jadi limbah
deterjennya tidak terlalu banyak, karena aktivitas masyarakat sekitar berada
pada keadaan minimum. Kondisi eksisting ini akan mempengaruhi sedikit atau
banyaknya sampel yang akan diambil.
2.2 Teori
Deterjen merupakan pembersih sintesis yang terbuat dari
bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibandingkan dengan produk terdahulu yaitu
sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih
baik serta tidak mempengaruhi kesadahan air (Arifin, 2010).
Deterjen adalah bahan untuk mencuci. Namun dalam
perkembangannya, deterjen digunakan untuk membedakan sabun cuci, sabun mandi,
dengan bahan pembersih lainnya. Awalnya, bahan pembersih terbuat dari air, minyak dan
bahan kasar seperti pasir basah atau clay
basah. Baru pada tahun 1913, deterjen menggunakan bahan sintesis
ditemukan oleh
seorang ahli kimia Belgia, A.Reychler. Hingga kini, deterjen mengalami banyak
perubahan dan kemajuan dalam hal bahan- bahan pembuatnya (Conel, 1995).
Bahan-bahan kimia pembuat deterjen (Arifin, 2010) :
1.
Surfaktan
Surfaktan (surface active
agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung yang berbeda
yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini
berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran
yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktan dapat berupa anion seperti Alkyl Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS), dan Alpha Olein Sulfonate (AOS), kationik seperti garam ammonium, nonionic seperti nonyl Phenol Polyethoxyle, dan amfoterik seperti Acyl Ethylenediamines.
2.
Builder (pembentuk)
Builder berfungsi meningkatkan
efisiensi pencuci surfaktan dengan cara menonaktifkan mineral menyebabkan
kesadahan air. Berupa Phosphates,
asetat, dan sitrat (asam sitrat).
3.
Filler (Pengisi)
Filler adalah bahan tambahan
deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah
kuantitas atau dapat memadatkan dan memantapakan sehingga dapat menurunkan
harga. Contoh: Sodium sulfate.
4.
Additives
Additives adalah bahan suplemen/ tambahan untuk pembuatan produk lebih menarik, misalnya pewangi,
pelarut, pemutih, pewarna, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci
deterjen. Additives ditambahkan untuk
maksud komersialisasi produk. Contoh: Enzyme,
Borax, dan Sodium Chloride.
Menurut
kandungan gugus aktif maka deterjen diklasifikasikan sebagai berikut (Arifin, 2008):
1.
Deterjen Keras
Deterjen jenis keras sukar dirusak oleh mikroorganisme meskipun
bahan tersebut sudah dibuang namun zat tersebut masih tetap aktif.
2.
Deterjen Lunak
Deterjen
jenis lunak bahan penurunan tegangan permukaan mudah dirusak oleh
mikroorganisme sehingga tidak aktif lagi bila dipakai.
Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang
menempel pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri
yang menyebabkan infeksi disebut dengan tokisisitas deterjen. Bahan kimia yang
digunakan pada deterjen dapat menimbulkan dampak negative baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan
terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak
langsung bagi manusia dan lingkungannya (Effendi, 2003).
Salah satu cara pengolahan limbah deterjen yang diterapkan di perusahaan produsen deterjen adalah dengan
pembuatan bak pengumpulan air limbah sisa deterjen. Di dalam bak tersebut
diletakkan pompa celup yang harus terendam air untuk menghindari terbentuknya
gelembung (buih) deterjen. Pompa celup ini berfungsi sebagai sirkulasi limbah. Di
luar bak penampungan dibuat bak kecil dan pompa dosing yang berisi larutan anti
deterjen, misalnya jika deterjen yang terbuang banyak mengandung detrjen
anionik, maka untuk menetralisir diberikan larutan deterjen kationik sebagai
anti deterjennya, demikian pula sebaliknya. Larutan anti deterjen ini
dimasukkan ke dalam bak penampungan dan dilakukan proses penetralan (Arifin,
2008)
Pemakaian bahan sintesis yang dikenal dengan
deterjen ini makin marak di masyarakat luas. Pemakaian deterjen di kota-kota
besar, tidak hanya dipakai dalam rumah tangga kelas atas, namun masyarakat
menengah ke bawah pun telah akrab dengan pembersih buatan ini. Pemakaian
deterjen ini dapat berdampak buruk pada kualitas lingkungan perairan di sekitar pemukiman. Akhirnya sungai - sungai yang menjadi sumber baku
bagi perusahaan air minum dapat tercemar bahan berbahaya dan beracun yang dapat
merugikan kesehatan. Salah satu cara untuk mengetahui apakah deterjen yang kita
gunakan ramah lingkungan adalah dengan merendam pakaian sehari semalam. Jika
air yang digunakan untuk merendam pakaian menjadi busuk, maka deterjen yang
kita gunakan adalah deterjen tidak ramah lingkungan (Slamet,
1983).
Deterjen ada yang bersifat kationik, anionik,
maupun nonionik. Semuanya membuat zat yang lipolifik mudah larut dan menyebar
di perairan. Selain itu, ukuran zat lipolifik
menjadi lebih halus, sehingga mempertinggi intensitas racun. Deterjen juga
mempermudah absorbs racun melalui insang. Deterjen ada pula yang bersifat
persisten, sehingga terjadi akumulasi. Seperti
halnya dengan DDT, deterjen jenis ini sudah tidak boleh digunakan lagi (Slamet,
1983).
BAB
III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini
adalah:
1. Corong pisah 2 buah;
2. Beaker glass 400 ml 2 buahl;
3. Gelas ukur 25 ml 1 buah;
4. Gelas ukur 10
ml 1 buah;
5. Erlenmeyer 200 ml
2 buah;
6. Corong 2 buah;
7. Statip 4
buah;
8. Spatula 1
buah;
9. Kuvet spektro 2 buah;
10. Pipet tetes 3 buah;
11. Labu semprot
1 buah;
12. Botol sampel
2 buah;
3.2
Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum
ini adalah:
1.
Larutan biru metilen;
2.
Larutan indikator fenolftalein;
3.
NaOH 1 N;
4.
H2SO4
1 N dan 6 N;
5.
Na2SO4
anhidrat;
6.
Aquadest.
3.3 Cara Kerja
Cara kerja
yang digunakan dalam melakukan percobaan analisis deterjen ini adalah:
1. Dimasukkan sampel 50 ml ke dalam corong pisah. Agar netral ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein dan NaOH 1 N sampai warna larutan merah muda;
2.
Ditambahkan H2SO4
sampai warnanya merah hilang;
3. Ditambahkan 25 ml larutan metilen biru;
4. Larutan
diekstrasi dengan 10 ml CH2Cl2
(diklorometan) dibiarkan selama 30
detik. Biarkan terjadi pemisahan fase. Digoyang perlahan, apabila
terbentuk emulsi tambahkan isopropil alkohol;
5. Lapisan bawah (CH2Cl2) dipisahkan dan lakukan ekstraksi dengan menggunakan kertas saring dan Na2SO4
anhidrat;
6. Ekstraksi
dilakukan sebanyak 3 kali dan hasil
ekstraksi digabungkan;
7. Blanko diperlakukan seperti langkah 1-6;
8.
Larutan sampel dan
blanko dimasukkan ke dalam kuvet, dibaca pada panjang gelombang 652 nm.
3.4 Rumus Perhitungan
Rumus
regresi linear kurva:
y = a + bx
Keterangan:
y
= Nilai Absorban
x
= Konsentrasi Larutan (ppm)
a
= 

b
= 
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1
Data
1.
Tabel Larutan Standar MBAS
|
Larutan
Standar (mg/l) (x)
|
Absorban
(y)
|
|
0,00
|
0,000
|
|
0,01
|
0,111
|
|
0,02
|
0,270
|
|
0,04
|
0,528
|
|
0,08
|
0,967
|
|
0,10
|
1,242
|
2.
Tabel Larutan Sampel Air
|
Konsentrasi
(ppm)
|
Absorban
|
|
x
|
0,706
|
4.2
Perhitungan
1.
Tabel
Larutan Standar MBAS
|
No.
|
Larutan
Standar
(mg/l)
(x)
|
Absorban
(y)
|
x.y
|
x2
|
|
1.
|
0,00
|
0,000
|
0
|
0
|
|
2.
|
0,01
|
0,111
|
0,00111
|
0,0001
|
|
3.
|
0,02
|
0,227
|
0,00454
|
0,0004
|
|
4.
|
0,04
|
0,528
|
0,02112
|
0,0016
|
|
5.
|
0,08
|
0,967
|
0,07736
|
0,0064
|
|
6.
|
0,10
|
1,242
|
0,1242
|
0,01
|
|
|
∑x = 0,25
|
∑y = 3,075
|
∑x.y = 0,22833
|
∑x2
= 0,0185
|
Rumus
regresi linear kurva:
y
= a + bx
Keterangan:
y
= Nilai absorban
x = Konsentrasi larutan standar (mg/l)
n = Banyak data
Masukkan
nilai x dan y ke dalam persamaan agar didapat nilai a dan b
Jadi persamaan regresi linearnya:
y = a + bx
y = -0,0040206
+ 12,39649948x
y = 12,39649948x- 0,0040206
Berdasarkan
perhitungan, diperoleh grafik hubungan antara konsentrasi dan absorban sebagai
berikut:
Grafik Antara
Hubungan Absorban Dan Konsentrasi

Dari
kurva kalibrasi yang telah dibuat, didapatkan persamaan:
y = 12,39649948x- 0,0040206.
2.
Larutan Sampel
Perhitungan kadar surfaktan pada sampel air:
y =
12,3964948x – 0,0040206
0,706 = 12,3964948x
– 0,0040206
0,706
+ 0,0040206 = 12,3964948x
0,7100206 = 12,3964948x
x = 0,0572
mg/L
4.3
Pembahasaan
Praktikum
kali ini dilakukan untuk menentukan kadar surfaktan anionik pada deterjen yang
terkandung dalam sampel dengan menggunakan metode spektrofotometri, sampel yang
digunakan diambil dari limbah air deterjen dari komplek perumahan Bariang di Anduring.
Setelah dilakukan percobaan, maka didapatkan hasil bahwa kandungan deterjen
dalam sampel adalah 0,0572 mg/L. Jika
di
analisa hasil perhitungan tersebut, konsentrasi deterjen
dengan sampel air lebih kecil dari standar yang telah
ditetapkan yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No. 82 Th. 2001 tentang Pengelolaan kualitas
air dan pengendalian pencemaran
air yang menetapkan batas kandungan MBAS (Methylene Blue Active Substance)
deterjen pada air buangan yaitu sebesar 200
g/L sama dengan 0,2 mg/L dan juga Kep
Menkes No. 492 Th. 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum yang menetapkan
kandungan maksimal deterjen pada air minum adalah 0,05 mg/L. Dilihat dari kondisi eksisiting hal ini wajar karena pengambilan
sampel dilakukan
pada malam hari disaat aktivitas minimum dilakukan. Selain itu, pengambilan sampel dilakukan saat cuaca
mendung dan belum terjadi hujan, sehingga sampel yang didapatkan tanpa terjadi
pengenceran. Namun bukan berarti kadar deterjen ini akan selalu
konstan dari hari ke hari, bisa saja suatu saat akan melebihi baku mutu yang
ditetapkan,
Dengan adanya praktikum ini, maka
dapat dilakukan penanggulangan apabila terjadi kelebihan kadar surfaktan pada
deterjen tersebut. Salah satunya dengan mengolahan limbah deterjen tersebut
sebelum dibuang kebadan air dan mengurangi kadar surfakatan pada deterjen itu
sendiri. Kadar surfaktan 0,5 - 1 mg/L dapat mengakibatkan
terbentuknya busa diperairan. Meskipun tidak bersifat toksik, keberadaan
surfaktan dapat menimbulkan rasa pada air dan dapat menurunkan absorpsi oksigen
di perairan. Dengan demikian akan menyebabkan organisme dan dapat menyebabkan
kematian biota air.
Sebagian besar limbah cair deterjen dibuang begitu saja
tanpa pengolahan terlebih dahulu, hal ini disebabkan karena kurangnya
pengetahuan dan kesadaran masyaakat akan bahaya deterjen dan juga karena
semakin sempitnya lahan tempat pengolahannya. Dengan mengetahui konsentrasi
kandungan surfaktan yang terdapat pada sampel, kita dapat menentukan pengolahan
yang tepat untuk air tersebut agar dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari
yaitu reverse osmosis (RO) yang mampu menyaring air sampai setingkat air minum.
Salah satu mesin RO memiliki ukuran sekitar 50 cm x 50 cm x 20 cm, pada
pemakaiannya tinggal dipasang di dinding dan bak dihubungkan dengan pipa
berdiameter 0,5 cm dengan sistem aliran. Penyaringan air dengan teknologi ini
dilakukan dengan menggunakan membran polipropelin dan membran karbon aktif.
Penurunan kadar deterjen disebabkan karena penyaringan oleh filter membran
karbon aktif. Proses filtrasi sangat efektif yaitu selama 5 – 20 menit.
Dengan diketahuinya kadar deterjen pada suatu sampel air,
kita dapat mengetahui kualitas air
tersebut dan memudahkan kita untuk menentukan perlakuan pengolahan yang tepat
pada air tersebut sehingga dapat diolah kembali menjadi air baku yang dapat
dimanfaatkan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari
praktikum ini dapat diperoleh
kesimpulan, yaitu :
1. Kadar surfaktan yang diperoleh dari praktikum analisis
deterjen yang berasal dari saluran buangan di komplek Barian, Anduring adalah
sebesar 0,0572 mg/L. dan kadar tersebut berada di bawah standar
baku mutu;
2. Standar
baku mutu kandungan deterjen yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah
Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air yang
menetapkan batas maksimum kandungan MBAS(Methylene Blue Active Substance) deterjen pada air buangan pada kelas I, kelas II, kelas III dan
kelas IVadalah 200 µg/l (0,2 mg/l), dan Kep Menkes No. 492 Th. 2010
tentang Persyaratan Kualitas Air Minum yang menetapkan kandungan maksimal
deterjen pada air minum adalah 0,05 mg/L.
3.
Jika kadar surfaktan melebihi standar
baku mutu, maka dapat dilakukan penanggulangan
sederhana
yang dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari yaitu reverse osmosis (RO) yang mampu menyaring air
sampai setingkat air minum;
5.2 Saran
Adapun saran yang praktikan berikan setelah melakukan
praktikum analisis deterjen adalah :
1.
Memahami
objek praktikumnya yang meliputi tujuan praktikum, prinsip kerja, dan prosedur
percobaan agar dapat melakukan praktikum
dengan baik;
2.
Mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan praktikum sebelum praktikum dimulai;
3.
Berhati-hati dalam menggunakan alat-alat praktikum;
4.
Jangan melakukan hal lain yang tidak berhubungan dengan praktikum;
5.
Teliti dalam melakukan praktikum.
DAFTAR
PUSTAKA
Connel,
D.W. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi
Pencemaran. UI-Press: Jakarta.
Effendi, H.
2003. Telaah Kualitas Air Bagi
Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. IPB: Bogor.
Slamet, Juli. S. 1983.
Kesehatan Lingkungan. Institut Teknologi Bandung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar