Translate

Jumat, 11 Oktober 2013

LAPORAN AKHIR ANALISIS DETERJEN


LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN
ANALISIS DETERJEN

OLEH :
NAMA                                                 :    SHABRINA YUNITA SARI
NO.BP                                                 :    1110942039
HARI/TANGGAL PRAKTIKUM  :    SABTU / 10 NOVEMBER 2012
KELOMPOK                                     :    V ( LIMA ) GANJIL
REKAN KERJA                                :    1.  REVITA MIZALIA    (1110942007)
                                                                  2. RAI SAPUTRA P.M  (1110941021)
                                                                  3. HESTIA MARIESTA (1110942037)

ASISTEN:
LUCIANA GUSTIN


logo UNAND
 





LABORATORIUM AIR
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK-UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Tujuan Percobaan
Menentukan kadar surfaktan anionik yang terkandung dalam deterjen pada air buangan dengan metode spektofotometri.
1.2     Metode Percobaan
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah spektofotometri.
1.3     Prinsip Percobaan
Surfaktan anionik bereaksi dengan biru metilen membentuk pasangan ion biru yang larut dalam pelarut organik. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 652 nm. Serapan yang terukur setara dengan kadar surfaktan anion.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Kondisi Eksisting Wilayah Sampling
Pada praktikum kali ini, praktikan melakukan sampling di Komplek Perumahan Bariang, Anduring. Pengambilan sampel dilakukan pada hari Jumat tanggal 16 November 2012 mulai pukul 18.30 – 19.00 WIB. Sampel yang diambil yaitu limbah dari saluran pembuangan komplek tersebut yang dialirkan melalui sebuah pipa menuju selokan. Saat pengambilan sampel dapat dilihat kondisi eksisting wilayah sampling secara fisik.  Limbah dari saluran tersebut terlihat keruh dan warnanya pun agak kecoklatan. Cuaca pada saat itu sedang mendung, jadi tidak terjadi pengenceran. Karena sampel diambil pada malam hari, jadi limbah deterjennya tidak terlalu banyak, karena aktivitas masyarakat sekitar berada pada keadaan minimum. Kondisi eksisting ini akan mempengaruhi sedikit atau banyaknya sampel yang akan diambil.
2.2  Teori
Deterjen merupakan pembersih sintesis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibandingkan dengan produk terdahulu yaitu sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak mempengaruhi kesadahan air (Arifin, 2010).
Deterjen adalah bahan untuk mencuci. Namun dalam perkembangannya, deterjen digunakan untuk membedakan sabun cuci, sabun mandi, dengan bahan pembersih lainnya. Awalnya, bahan pembersih terbuat dari air, minyak dan bahan kasar seperti pasir basah atau clay basah. Baru pada tahun 1913, deterjen menggunakan bahan sintesis ditemukan oleh seorang ahli kimia Belgia, A.Reychler. Hingga kini, deterjen mengalami banyak perubahan dan kemajuan dalam hal bahan- bahan pembuatnya (Conel, 1995).
Bahan-bahan kimia pembuat deterjen (Arifin, 2010) :
1.   Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung yang berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Surfaktan dapat berupa anion seperti Alkyl Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS), dan Alpha Olein Sulfonate (AOS), kationik seperti garam ammonium, nonionic seperti nonyl Phenol Polyethoxyle, dan amfoterik seperti Acyl Ethylenediamines.
2.   Builder (pembentuk)
Builder berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci surfaktan dengan cara menonaktifkan mineral menyebabkan kesadahan air. Berupa Phosphates, asetat, dan sitrat (asam sitrat).
3.    Filler (Pengisi)
Filler adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau dapat memadatkan dan memantapakan sehingga dapat menurunkan harga. Contoh: Sodium sulfate.
4.    Additives
Additives adalah bahan suplemen/ tambahan untuk pembuatan produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan untuk maksud komersialisasi produk. Contoh: Enzyme, Borax, dan Sodium Chloride.
Menurut kandungan gugus aktif maka deterjen diklasifikasikan sebagai berikut  (Arifin, 2008):
1.   Deterjen Keras
Deterjen jenis keras sukar dirusak oleh mikroorganisme meskipun bahan tersebut sudah dibuang namun zat tersebut masih tetap aktif.
2.   Deterjen Lunak
Deterjen jenis lunak bahan penurunan tegangan permukaan mudah dirusak oleh mikroorganisme sehingga tidak aktif lagi bila dipakai.
Kemampuan deterjen untuk menghilangkan berbagai kotoran yang menempel pada kain atau objek lain, mengurangi keberadaan kuman dan bakteri yang menyebabkan infeksi disebut dengan tokisisitas deterjen. Bahan kimia yang digunakan pada deterjen dapat menimbulkan dampak negative baik terhadap kesehatan maupun lingkungan. Dua bahan terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung bagi manusia dan lingkungannya (Effendi, 2003).
Salah satu cara pengolahan limbah deterjen yang diterapkan  di perusahaan produsen deterjen adalah dengan pembuatan bak pengumpulan air limbah sisa deterjen. Di dalam bak tersebut diletakkan pompa celup yang harus terendam air untuk menghindari terbentuknya gelembung (buih) deterjen. Pompa celup ini berfungsi sebagai sirkulasi limbah. Di luar bak penampungan dibuat bak kecil dan pompa dosing yang berisi larutan anti deterjen, misalnya jika deterjen yang terbuang banyak mengandung detrjen anionik, maka untuk menetralisir diberikan larutan deterjen kationik sebagai anti deterjennya, demikian pula sebaliknya. Larutan anti deterjen ini dimasukkan ke dalam bak penampungan dan dilakukan proses penetralan (Arifin, 2008)
Pemakaian bahan sintesis yang dikenal dengan deterjen ini makin marak di masyarakat luas. Pemakaian deterjen di kota-kota besar, tidak hanya dipakai dalam rumah tangga kelas atas, namun masyarakat menengah ke bawah pun telah akrab dengan pembersih buatan ini. Pemakaian deterjen ini dapat berdampak buruk pada kualitas lingkungan perairan di sekitar pemukiman. Akhirnya sungai - sungai yang menjadi sumber baku bagi perusahaan air minum dapat tercemar bahan berbahaya dan beracun yang dapat merugikan kesehatan. Salah satu cara untuk mengetahui apakah deterjen yang kita gunakan ramah lingkungan adalah dengan merendam pakaian sehari semalam. Jika air yang digunakan untuk merendam pakaian menjadi busuk, maka deterjen yang kita gunakan adalah deterjen tidak ramah lingkungan (Slamet, 1983).
Deterjen ada yang bersifat kationik, anionik, maupun nonionik. Semuanya membuat zat yang lipolifik mudah larut dan menyebar di perairan. Selain itu, ukuran zat lipolifik menjadi lebih halus, sehingga mempertinggi intensitas racun. Deterjen juga mempermudah absorbs racun melalui insang. Deterjen ada pula yang bersifat persisten, sehingga terjadi akumulasi. Seperti halnya dengan DDT, deterjen jenis ini sudah tidak boleh digunakan lagi (Slamet, 1983).

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1  Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1.      Corong pisah 2 buah;
2.      Beaker glass 400 ml 2 buahl;
3.      Gelas ukur 25 ml 1 buah;
4.      Gelas ukur 10 ml 1 buah;
5.      Erlenmeyer 200 ml  2 buah;
6.      Corong 2 buah;
7.      Statip 4 buah;
8.      Spatula 1 buah;
9.      Kuvet spektro 2 buah;
10.  Pipet tetes 3 buah;
11.  Labu semprot 1 buah;
12.  Botol sampel 2 buah;
3.2  Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1.        Larutan biru metilen;
2.        Larutan indikator fenolftalein;
3.        NaOH 1 N;
4.        H2SO4 1 N dan 6 N;
5.        Na2SO4 anhidrat;
6.        Aquadest.
3.3  Cara Kerja
Cara kerja yang digunakan dalam melakukan percobaan analisis deterjen ini adalah:
1.    Dimasukkan sampel 50 ml ke dalam corong pisah. Agar netral ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein dan NaOH 1 N sampai warna larutan merah muda;
2.    Ditambahkan H2SO4 sampai warnanya merah hilang;
3.    Ditambahkan 25 ml larutan metilen biru;
4.    Larutan diekstrasi dengan 10 ml CH2Cl2 (diklorometan) dibiarkan selama 30 detik. Biarkan terjadi pemisahan fase. Digoyang perlahan, apabila terbentuk emulsi tambahkan isopropil alkohol;
5.    Lapisan bawah (CH2Cl2) dipisahkan dan lakukan ekstraksi dengan menggunakan kertas saring dan Na­2SO4 anhidrat;
6.    Ekstraksi dilakukan sebanyak 3 kali dan hasil ekstraksi digabungkan;
7.    Blanko diperlakukan seperti langkah 1-6;
8.    Larutan sampel dan blanko dimasukkan ke dalam kuvet, dibaca pada panjang gelombang 652 nm.
3.4  Rumus Perhitungan
Rumus regresi linear kurva:
y = a + bx
Keterangan:
y = Nilai Absorban
x = Konsentrasi Larutan (ppm)

a =
b =







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Data
1.    Tabel Larutan Standar MBAS
Larutan Standar (mg/l) (x)
Absorban (y)
0,00
0,000
0,01
0,111
0,02
0,270
0,04
0,528
0,08
0,967
0,10
1,242

2.        Tabel Larutan Sampel Air
Konsentrasi (ppm)
Absorban
x
0,706

4.2    Perhitungan
1.    Tabel Larutan Standar MBAS
No.
Larutan Standar
(mg/l) (x)
Absorban (y)
x.y
x2
1.
0,00
0,000
0
0
2.
0,01
0,111
0,00111
0,0001
3.
0,02
0,227
0,00454
0,0004
4.
0,04
0,528
0,02112
0,0016
5.
0,08
0,967
0,07736
0,0064
6.
0,10
1,242
0,1242
0,01

∑x = 0,25
∑y = 3,075
∑x.y = 0,22833
∑x2 = 0,0185
Rumus regresi linear kurva:
y = a + bx
Keterangan:
y = Nilai absorban                              
x = Konsentrasi larutan standar (mg/l)
n = Banyak data
Masukkan nilai x dan y ke dalam persamaan agar didapat nilai a dan b
Jadi persamaan regresi linearnya:
y = a + bx
y = -0,0040206 + 12,39649948x
y = 12,39649948x- 0,0040206
Berdasarkan perhitungan, diperoleh grafik hubungan antara konsentrasi dan absorban sebagai berikut:


Grafik Antara Hubungan Absorban Dan Konsentrasi







Dari kurva kalibrasi yang telah dibuat, didapatkan persamaan:
y = 12,39649948x- 0,0040206.
2.        Larutan Sampel
Perhitungan kadar surfaktan pada sampel air:
y      =  12,3964948x – 0,0040206
                             0,706    =  12,3964948x – 0,0040206
         0,706 + 0,0040206   =  12,3964948x
                     0,7100206    =  12,3964948x  
                                     x   =  0,0572 mg/L
                                  





4.3 Pembahasaan
Praktikum kali ini dilakukan untuk menentukan kadar surfaktan anionik pada deterjen yang terkandung dalam sampel dengan menggunakan metode spektrofotometri, sampel yang digunakan diambil dari limbah air deterjen dari komplek perumahan Bariang di Anduring. Setelah dilakukan percobaan, maka didapatkan hasil bahwa kandungan deterjen dalam sampel adalah 0,0572 mg/L. Jika di analisa hasil perhitungan tersebut, konsentrasi deterjen dengan  sampel air lebih kecil dari standar yang telah ditetapkan yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Th. 2001 tentang Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air yang menetapkan batas kandungan MBAS (Methylene Blue Active Substance) deterjen pada air buangan yaitu sebesar 200 g/L sama dengan 0,2 mg/L dan juga Kep Menkes No. 492 Th. 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum yang menetapkan kandungan maksimal deterjen pada air minum adalah 0,05 mg/L. Dilihat dari kondisi eksisiting hal ini wajar karena pengambilan sampel dilakukan pada malam hari disaat aktivitas minimum dilakukan. Selain itu, pengambilan sampel dilakukan saat cuaca mendung dan belum terjadi hujan, sehingga sampel yang didapatkan tanpa terjadi pengenceran. Namun bukan berarti kadar deterjen ini akan selalu konstan dari hari ke hari, bisa saja suatu saat akan melebihi baku mutu yang ditetapkan,
Dengan adanya  praktikum ini, maka dapat dilakukan penanggulangan apabila terjadi kelebihan kadar surfaktan pada deterjen tersebut. Salah satunya dengan mengolahan limbah deterjen tersebut sebelum dibuang kebadan air dan mengurangi kadar surfakatan pada deterjen itu sendiri. Kadar surfaktan 0,5 - 1 mg/L dapat mengakibatkan terbentuknya busa diperairan. Meskipun tidak bersifat toksik, keberadaan surfaktan dapat menimbulkan rasa pada air dan dapat menurunkan absorpsi oksigen di perairan. Dengan demikian akan menyebabkan organisme dan dapat menyebabkan kematian biota air.
Sebagian besar limbah cair deterjen dibuang begitu saja tanpa pengolahan terlebih dahulu, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyaakat akan bahaya deterjen dan juga karena semakin sempitnya lahan tempat pengolahannya. Dengan mengetahui konsentrasi kandungan surfaktan yang terdapat pada sampel, kita dapat menentukan pengolahan yang tepat untuk air tersebut agar dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari yaitu reverse osmosis (RO) yang mampu menyaring air sampai setingkat air minum. Salah satu mesin RO memiliki ukuran sekitar 50 cm x 50 cm x 20 cm, pada pemakaiannya tinggal dipasang di dinding dan bak dihubungkan dengan pipa berdiameter 0,5 cm dengan sistem aliran. Penyaringan air dengan teknologi ini dilakukan dengan menggunakan membran polipropelin dan membran karbon aktif. Penurunan kadar deterjen disebabkan karena penyaringan oleh filter membran karbon aktif. Proses filtrasi sangat efektif yaitu selama 5 – 20 menit.
Dengan diketahuinya kadar deterjen pada suatu sampel air,  kita dapat mengetahui kualitas air tersebut dan memudahkan kita untuk menentukan perlakuan pengolahan yang tepat pada air tersebut sehingga dapat diolah kembali menjadi air baku yang dapat dimanfaatkan.

BAB V
PENUTUP
5.1  Simpulan
Dari praktikum ini dapat diperoleh  kesimpulan, yaitu :
1.    Kadar surfaktan yang diperoleh dari praktikum analisis deterjen yang berasal dari saluran buangan di komplek Barian, Anduring adalah sebesar 0,0572 mg/L. dan kadar tersebut berada di bawah standar baku mutu;
2.    Standar baku mutu kandungan deterjen yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang menetapkan batas maksimum kandungan MBAS(Methylene Blue Active Substance) deterjen pada air buangan pada kelas I, kelas II, kelas III dan kelas IVadalah 200 µg/l (0,2 mg/l), dan Kep Menkes No. 492 Th. 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum yang menetapkan kandungan maksimal deterjen pada air minum adalah 0,05 mg/L.
3.    Jika kadar surfaktan melebihi standar baku mutu, maka dapat dilakukan penanggulangan sederhana yang dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari yaitu reverse osmosis (RO) yang mampu menyaring air sampai setingkat air minum;
5.2  Saran
Adapun saran yang praktikan berikan setelah melakukan praktikum analisis deterjen adalah :
1.        Memahami objek praktikumnya yang meliputi tujuan praktikum, prinsip kerja, dan prosedur percobaan agar dapat melakukan  praktikum dengan baik;
2.        Mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan praktikum sebelum praktikum dimulai;
3.        Berhati-hati dalam menggunakan alat-alat praktikum;
4.        Jangan melakukan hal lain yang tidak berhubungan dengan praktikum;
5.        Teliti dalam melakukan praktikum.


DAFTAR PUSTAKA
Arifin. 2008. Metode Pengolahan Deterjen. http://.wordpress.com. Tanggal Akses: 19 Oktober 2012.
Connel, D.W. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. UI-Press: Jakarta.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. IPB: Bogor.
Slamet, Juli. S. 1983. Kesehatan Lingkungan. Institut Teknologi Bandung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar